Wednesday, June 24, 2015


TEOLOGI RELIGIONUM




















DAFTAR ISI

















                       




Text Box: Sekolah Tinggi Manajemen IndustriNama                             : Novia Christabella (1314073)
Hari/Tanggal        : Jum’at/23 Januari 2015
Mata Kuliah                   : Pendidikan Agama Kristen
Kelas                              : A


PENDAHULUAN
Indonesia sekarang sedang mengalami masa kemajuan teknologi yang sangat pesat. Dampak dari kemajuan teknologi tersebut pasti akan memuculkan masalah-masalah baru. Masalah yang terjadi bisa saja dari masalah ekonomi, politik, sosial dan budaya, juga masalah agama yang kian hari kian ramai diperbincangkan. Masalah agama dalam kemajuan teknologi justru semakin pelik. Karena semua orang dengan mudah mendapatkan informasi yang bisa saja memicu perselisihan antar umat beragama dari manfaat kemajuan teknologi. Sejatinya agama adalah kepercayaan yang dimiliki oleh setiap orang secara bebas sesuai dengan hati nurani mereka. Tantangan untuk agama-agama saat ini bukan hanya bagaimana seseorang harus menjalankan perintah agama yang mereka anut saja, namun lebih daripada itu tantangan bagi mereka adalah bagaimana mereka menyikapi hubungan mereka dengan kemajemukan agama serta pengaruhnya yang semakin besar terhadap kehidupan kita.
Dalam paper ini saya akan menjelaskan secara rinci tentang kepercayaan-kepercayaan lain yang diakui oleh Indonesia, yaitu Kristen, Katolik, Islam, Buddha, dan Hindu sebagai agama-agama yang sah. Tentunya saya akan melihatnya semuanya melalui kacamata agama Kristen yang saya percayai. Dengan judul “Teologi Religionum”, dimaksudkan agar makalah ini juga bukan hanya untuk menjelaskan tentang kepercayaan lain, namun untuk membangkitkan kesadaran bahwa selama ini kita hidup dengan sesama kita yang juga memiliki iman kepercayaan dan prakteknya yang sangat berbeda dengan ajaran dalam kepercayaan kita dan mau tidak mau kita terima sebagai bagian dari masyarakat. Karena sejujurnya tanpa kita sadari selama ini ada jurang pemisah antara kita dengan sesama kita yang berbeda keyakinan. Sehingga cita-cita yang Tuhan inginkan untuk kita mengasihi sesama manusia malah kita sendiri yang menghambatnya. Dan setelah membaca paper ini diharapkan kita akan memandang sesama kita yang berbeda keyakinan dalam cara berpikir yang baru, serta berusaha untuk menjalin persekutuan yang lebih akrab bukan malah semakin menjauhkan diri atau mengisolasi diri kita dari sesama kita. Serta untuk semakin menguatkan iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Selamat membaca. Tuhan Yesus Memberkati.


[1]Pada abad ke-19 teori evolusi cepat menyebar di kalangan cendekiawan, dan sejalan dengan munculnya penelitian ilmiah, menyebabkan banyak orang mempertanyakan sistem-sistem yang sudah ada, termasuk agama. Menyadari terbatasnya petunjuk yang mereka dapatkan dari agama yang ada, beberapa pakar beralih ke peninggalan-peninggalan peradaban masa awal atau ke ujung-ujung dunia, tempat orang-orang masih hidup dalam masyarakat primitif. Mereka mencoba menerapkan metode-metode psikologi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya, dengan harapan mendapatkan petunjuk tentang bagaimana dan mengapa ada agama. Hasilnya muncul banyak teori tentang agama, yakni :
-    Sebuah teori, yang umumnya disebut teori animisme, dikemukakan oleh seorang antropolog asal Inggris, Edward Tylor (1832-1917). Ia mengemukakan bahwa pengalaman seperti mimpi, penglihatan, halusinasi, ditambah dengan fakta bahwa mayat tidak bernyawa lagi menyebabkan orang-orang primitif menyimpulkan bahwa tubuh dihuni oleh suatu jiwa (Latin, anima). Menurut teori ini, karena orang sering bermimpi tentang orang-orang tercinta yang sudah meninggal, mereka menyimpulkan bahwa jiwa tetap hidup setelah kematian, bahwa jiwa meninggalkan tubuh dan mendiami pohon, batu karang, sungai, dan sebagainya. Akhirnya, orang mati dan benda-benda yang konon dihuni oleh jiwa disembah sebagai dewa-dewi. Maka, kata Tylor, lahirlah agama.
-    Seorang antropolog lain asal Inggris, R. R. Marett (1866-1943), mengajukan perbaikan atas teori animisme, yang ia sebut teori animatisme. Setelah meneliti berbagai kepercayaan orang Melanesia di Kepulauan Pasifik serta penduduk asli Afrika dan Amerika, Marett menyimpulkan bahwa orang-orang primitif tidak menganggap jiwa itu suatu pribadi, tetapi bahwa ada suatu kekuatan abstrak atau tenaga gaib yang menghidupkan segala sesuatu; kepercayaan itu membangkitkan perasaan hormat dan takut dalam diri manusia, yang menjadi dasar untuk agama primitif mereka. Menurut Marett, agama pada dasarnya merupakan tanggapan emosional manusia terhadap apa yang tidak diketahui. Pernyataannya yang terkenal ialah bahwa agama ”sebenarnya bukan hasil pemikiran melainkan luapan batin”.
-    Pada tahun 1890, pakar cerita rakyat kuno asal Skotlandia, James Frazer (1854-1941), menerbitkan buku yang berpengaruh, The Golden Bough. Di dalam buku itu, ia mengemukakan bahwa agama berasal dari ilmu gaib. Menurut Frazer, manusia mula-mula mencoba mengendalikan kehidupannya sendiri dan lingkungannya dengan meniru apa yang ia lihat terjadi di alam. Sebagai contoh, orang berpikir bahwa ia dapat mendatangkan hujan dengan memercikkan air ke tanah diiringi pukulan gendang yang seperti bunyi guntur atau bahwa ia dapat melukai musuhnya dengan menusuk-nusukkan jarum ke orang-orangan. Hasilnya, mereka mulai menggunakan upacara keagamaan, mantra, dan benda-benda bertuah dalam banyak segi kehidupan. Jika hal ini tidak manjur, ia kemudian akan menenangkan tenaga-tenaga gaib serta meminta bantuan mereka, ketimbang mencoba mengendalikan mereka. Dari upacara keagamaan serta pelantunan mantra berkembanglah korban-korban dan doa-doa, sehingga lahirlah agama. Mengutip kata-kata Frazer, agama adalah ”tindakan berdamai atau rujuk dengan kuasa-kuasa yang lebih tinggi daripada manusia”.
Ada banyak teori lain yang mencoba menjelaskan asal usul agama. Namun, kebanyakan sudah dilupakan, dan tak satu pun benar-benar kelihatan lebih dapat dipercaya atau berterima daripada yang lainnya. Mengapa? Karena tidak pernah ada bukti sejarah bahwa teori-teori ini benar. Teori-teori ini murni hasil imajinasi atau karangan para peneliti, yang tak lama kemudian diganti dengan teori baru berikutnya.
Setelah bertahun-tahun bergumul dengan persoalan ini, sekarang banyak orang berkesimpulan bahwa tampaknya mustahil akan ada terobosan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tentang asal usul agama. Pertama-tama, alasannya adalah tulang-tulang dan peninggalan bangsa-bangsa kuno tidak memberi tahu kita tentang cara berpikir orang-orang tersebut, apa yang mereka takuti, atau mengapa mereka menyembah sesuatu. Tidak seorang pun mengetahui dengan pasti apakah atau bagaimana caranya kebudayaan mereka berubah dari abad ke abad. Secara masuk akal, kesamaan konsep dasar banyak agama dunia merupakan bukti yang kuat bahwa agama-agama tidak bermula sendiri-sendiri. Sebaliknya, apabila kita menelusurinya cukup jauh ke masa lampau, gagasan-gagasannya pasti berasal dari sumber yang sama.
[2]Ada beberapa definisi tentang agama. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikannya sebagai “Ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya, Islam; Kristen; Katolik; Buddha; Hindu”. Dari sini, kita melihat adanya dimensi iman, ibadah, dan moralitas di dalamnya. Dari definisi ini, maka kita melihat bahwa agama mengajarkan satu perangkat kepercayaan atau iman dan bagaimana mewujudkan iman atau kepercayaan ini, baik dengan doa, ritual atau liturgi yang mengatur bagaimana untuk menyembah Tuhan yang dipercayai, maupun dengan satu pengajaran moral yang mengatur bagaimana untuk hidup dengan baik sesuai dengan apa yang dipercayai.

·           [3]Terbentuknya suatu Agama (Kristen, Yahudi, dan Islam)
   Agama Yahudi, Islam, dan Kristen mempunyai gagasan dasar yang sama yaitu percaya kepada satu Tuhan. Bangsa Semit memiliki pandangan yang Linier terhadap sejarah seperti sebuah garis lurus dimana terciptanya Dunia adalah awal dari kehidupan (terciptanya manusia) dan kiamat sebagai akhir. Di  Zaman sekarang kota jerusalem merupakan kota yang penting bagi ketiga agama tersebut. ini juga merupakan cukup bukti bahwa ketiga agama tersebut berasal dari satu asal. Di kota tersebut terdapat berbagai Sinagog (Yahudi),  Gereja (Kristen), Mesjid (Islam) terkemuka.
     [4]Agama Hindu (Bahasa Sanskerta: Sanātana Dharma सनातन धर्म "Kebenaran Abadi”, dalam bahasa Persia kata Hindu berakar dari kata Sindhu), dan Vaidika Dharma (Pengetahuan Kebenaran) adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak hampir 1 miliar jiwa. Penganut agama Hindu sebagian besar terdapat di anak benua India. Di sini terdapat sekitar 90% penganut agama ini. Agama ini pernah tersebar di Asia Tenggara sampai kira-kira abad ke-15, lebih tepatnya pada masa keruntuhan Majapahit. Mulai saat itu agama ini digantikan oleh agama Islam dan juga Kristen. Pada masa sekarang, mayoritas pemeluk agama Hindu di Indonesia adalah masyarakat Bali, selain itu juga yang tersebar di pulau Jawa,Lombok, Kalimantan (Suku Dayak Kaharingan), Sulawesi (Toraja dan Bugis - Sidrap).
     [5]Agama Buddha lahir di negara India, lebih tepatnya lagi di wilayah Nepal sekarang, sebagai reaksi terhadap agama Brahmanisme. Sejarah agama Buddha mulai dari abad ke-6 SM sampai sekarang dari lahirnya Siddharta Gautama. Agama itu diperoleh namanya dari panggilan yang diberikan kepada pembangunnya yang mula-mula Siddharta Gautama (563-483 BC), yang dipanggilkan dengan : Buddha. Panggilan itu berasal dari akar kata Bodhi (hikmat), yang di dalam deklensi (tashrif) selanjutnya menjadi buddhi (nurani), dan selanjutnya menjadi Buddha. Sebab itulah sebutan Buddha pada masa selanjutnya memperoleh berbagai pengertian sebagai berikut: Yang sadar, Yang Cemerlang, dan yang beroleh terang. Panggilan itu diperoleh Siddharta Gautama sesudah menjalani sikap hidup penuh kesucian, bertapa, berkalwat mengembara untuk menemukan kebenaran, dekat tujuh tahun lamanya, dan di bawah sebuah pohon, iapun beroleh hikmat dan terang hingga pohon itu sampai saat ini dipanggilkan pohon Hikmat (Tree of Bodhi). Buddha adalah salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia. Agama Buddha berkembang dengan unsur kebudayaan India, ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Helenistik (Yunani), Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara. Dalam proses perkembangannya, agama ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia dan telah menjadi agama mayoritas di beberapa negara Asia seperti Thailand, Singapura, Kamboja, Myanmar, Taiwan, dsb. Pencetusnya ialah Siddhartha Gautama yang dikenal sebagai Gautama Buddha oleh pengikut-pengikutnya. Ajaran Buddha sampai ke negara Tiongkok pada tahun 399 Masehi, dibawa oleh seorang bhikku bernama Fa Hsien. Masyarakat Tiongkok mendapat pengaruhnya dari Tibet disesuaikan dengan tuntutan dan nilai lokal. Setiap aliran Buddha berpegang kepada Tripitaka sebagai rujukan utama karena dalamnya tercatat sabda dan ajaran sang hyang Buddha Gautama. Pengikut-pengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikasikan ajarannya dalam 3 buku yaitu Sutta Piṭaka (kotbah-kotbah Sang Buddha), Vinaya Piṭaka (peraturan atau tata tertib para bhikkhu) dan Abhidhamma Piṭaka (ajaran hukum metafisika dan psikologi)


[6]Banyak sekali orang Kristen yang selama ini hidup dalam masyarakat yang beragam agama. Sekarang ini ketika makin banyak masyarakat dan bangsa menjadi majemuk dalam hidup keagamaannya, kita sebagai orang percaya perlu dengan sesama di dalam terang iman memberi respon terhadap kenyataan tersebut, yaitu banyak dari sesama kita menjalankan kehidupan dengan iman kepercayaan yang lain. Beberapa dari kita justru tidak mempedulikan hal tersebut. Atau bahkan dengan kemajemukan tersebut malah membuat mereka memutuskan untuk pindah ke tempat lain dimana mereka tidak perlu lagi mengalami situasi tersebut. [7]Keragaman agama bukan suatu keburukan yang harus dihilangkan, tetapi suatu kekayaan yang harus diterima dan dinikmati oleh semua. Di dalam semua agama terdapat lebih banyak kebenaran agamis daripada dalam satu agama. Ini juga terdapat dalam Kristiani.
Agama-agama di dunia ini harus bersekutu, bukan untuk membentuk suatu agama tunggal tetapi suatu komunitas dialogis dari antara berbagai komunitas. Citra agama masa depan bagi umat manusia bukan hanya diperlihatkan dalam foto-foto kegiatan gereja, pura, masjid ataupun vihara, tetapi diharapkan terciptanya dialog-dialog antar agama. Jadi adanya satu gerakan, bukan menuju kesatuan absolut atau monoistik tetapi menuju apa yang bisa disebut “pluralisme yang menyatukan”: Pluralitas yang membentuk persatuan. Karena sesungguhnya kebenaran dapat terungkap melalui dialog. Kebenaran yang kita lihat dari sudut pandang kultural-religius kita bukan hanya terbatas tetapi juga sangat berbahaya. Kalau kita tidak sadar bahwa kebenaran yang kita miliki terbatas, kita akan menganggapnya sebagai satu-satunya kebenaran, atau kebenaran yang paling unggul bukan hanya untuk kita sendiri tetapi juga untuk semua orang. Sebuah ilustrasi singkat yang dapat menggambarkan pandangan yang baik tentang kebenaran tersebut. Kita adalah seorang warga desa yang akan menjadi bagian dari desa global. Akar identitas kita selalu bersifat lokal dan akan terus-menerus demikian. Kita membawa warisan desa kita, saat kita mengunjungi desa-desa lain dan belajar dari mereka, kita akan menghargai baik nilai maupun keterbatasan dari apa yang diwariskan desa kita sendiri. Dari dua ancaman besar komunitas adalah nasionalisme dan fanatisme yang berkembang diantara mereka yang belum pernah keluar dari desanya sendiri, dan menganggap desa mereka adalah yang paling superior. Ini juga yang dianut oleh banyak komunitas beragama. Mereka yang memiliki teologi yang berbeda dengan yang lain menganggap perbedaan merupakan suatu ancaman. Sehingga banyak yang menyikapinya dengan cara menciptakan semacam isolasi kultural.



Penciptaan adalah sebuah tema pokok yang ada di dalam Alkitab. Alkitab bahkan memulai ceriteranya dengan penciptaan. Namun demikian penciptaan juga menjadi tema pokok bagi sebagian kepercayaan lain, seperti berikut :
1.        [8]Penciptaan menurut Iman Kristen dan Katolik
6 Hari Penciptaan
Hari Pertama        : Langit dan bumi diciptakan dan “Jadilah terang”
Hari Kedua          : Allah menciptakan cakrawala
Hari Ketiga          : Daratan dipisahkan dengan lautan; tumbuh-tumbuhan diciptakan
Hari Keempat       : Benda-benda langit diciptakan
Hari Kelima          : Binatang di laut dan burung-burung di udara
Hari Keenam        : Binatang di bumi, ternak, dan binatang melata. Lalu manusia diciptakan (Adam dan        Hawa)
Tuturan Kejadian 1 dapat disajikan dalam tiga tahap terpisah. Pada tiga hari pertama dijadikan panggung, pada tiga hari kedua dijadikan para pelaku yang bertindak di atasnya. Ada tiga macam pemisahan dan ada tiga macam penguasa, sebagai berikut :Pada hari pertama, Allah memisahkan terang dari gelap (Kejadian 1:4). Ini sejajar dengan hari keempat pada hari mana Allah menjadikan penerang - matahari dan bulan - untuk menguasai siang dan malam (Kejadian 1: 16-18).
1)   Pada hari kedua, Allah memisahkan air yang ada di bawah cakrawala dari air yang ada di atasnya (Kejadian 1:7). Ini sejajar dengan hari kelima pada hari mana Allah menjadikan burung yang terbang melintasi cakrawala, serta binatang-binatang laut dan makhluk lainnya yang berkeriapan dalam air (Kejadian 1:20-21).
2)   Pada hari ketiga, Allah memisahkan darat yang kering dari air, lalu menjadikan tumbuh-tumbuhan (Kejadian 1:9-12). Ini sejajar dengan hari keenam pada hari mana Allah menjadikan binatang ternak dan binatang liar di muka bumi, serta manusia - laki-laki dan perempuan - untuk menguasaI semua makhluk lain yang hidup (Kejadian 1:24-27).
Kejadian 1 menyatakan keteraturan dan penggolongan. Tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang digolongkan menurut jenisnya (ayat 11, 21, 24, 25). Prinsip kesuburan berkembang biak kelihatan dalam ay 11-12, tumbuhan-tumbuhan berbiji dan segala jenis pohon menghasilkan buah yang berbiji juga. Dalam ayat 22 segala binatang berkembang biak karena berkat Allah. Kejadian 1 juga menyatakan tujuan diciptakannya beberapa hal, yaitu matahari dan bulan untuk menguasai (Kejadian 1:18), manusia untuk berkuasa atas semua ciptaan lainnya (Kejadian 1:26). Jelas Kejadian 1 menitikberatkan ketransendenan Sang Khalik. dan implikasinya bahwa keteraturan alami dunia adalah keteraturan yang tergantung pada Allah dan berasal dari Allah, tapi tidak mutlak harus teratur dengan corak yang sama. Pandangan ini tidak bertentangan dengan sains, bahkan mendukungnya. [9]Dengan demikian, penciptaan adalah karya dari Tritunggal Maha Kudus, yang dilakukan secara bebas tanpa paksaan dan di dalam kebijaksaan-Nya, Tuhan memandang baik. Kalau Tuhan adalah kasih dan kebaikan itu sendiri, maka menjadi kodrat dari kebaikan dan kasih untuk semakin dibagikan. Kebaikan Tuhan dinyatakan dengan menciptakan makhluk, baik yang paling rendah sampai yang paling tinggi, yaitu dari benda ciptaan, makhluk hidup yang tidak berakal budi seperti tumbuhan dan binatang, makhuk hidup yang berakal budi seperti manusia sampai malaikat.
[10]Ajaran Buddha sangat mengutamakan etika dan moralitas. Tanpa perlu diperintah, umat Buddhis sejati mengembangkan cinta, belas kasih, kepedulian atas nama kemanusiaan. Karena setiap orang tidak mau menderita, maka jangan melakukannya kepada yang lain. Begitulah ajaran Buddha, sangat sederhana. Untuk merujuk sumber kitab bahwa alam semesta dan kehidupan tidak diciptakan atau diatur oleh Tuhan, pandangan Sang Buddha mengenai ada tidaknya pencipta alam semesta
Salah satu dari Mahayana Sutra, yaitu Lankavatara Sutra, berisi dialog antara Sang Buddha dengan Mahamati. Dalam dialog tersebut, Sang Buddha menyatakan bahwa konsep Tuhan yang berdaulat, atau Atman adalah imajinasi belaka atau perwujudan dari pikiran dan bisa menjadi halangan menuju kesempurnaan karena ini membuat kita menjadi terikat dengan konsep Tuhan Maha Pencipta. Kutipan dari sutra tersebut sebagai berikut, "Semua konsep seperti penyebab, suksesi, atom, unsur-unsur dasar, yang membuat kepribadian, jiwa pribadi, roh tertinggi, Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Pencipta, adalah imajinasi belaka dan perwujudan dari pemikiran manusia. Tidak, Mahamati, doktrin Tathágata dari rahim keTathágata-an tidaklah sama dengan filosofi Atman." (Lankavatara sutra, bab VI). "Asumsi bahwa suatu Tuhan (isvara) adalah penyebab, dan lain sebagainya, bersandar atas kepercayaan salah dalam suatu diri yang kekal, tetapi kepercayaan itu haruslah ditinggalkan, jikalau seseorang sudah dengan jelas mengerti bahwa segala sesuatu adalah tunduk pada penderitaan. [Vasubhandu, Abhidharmakosa, 5, 8 (vol. IV, p. 19); Sphutartha, p. 445,26.]. “Bila ada Sang Maha Kuasa yang dapat mendatangkan bagi setiap mahluk ciptaanya kebahagiaan atau penderitaan, perbuatan baik maupun jahat, maka yang maha kuasa itu diliputi dosa [kebencian/kekejaman], sedangkan manusia hanya menjalankan perintahnya saja [karena sudah diatur].” ( Mahabodhi Jataka No.528 ). “Apabila, O para bhikkhu, para makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issara-nimmanahetu), maka para Nigantha (petapa telanjang) ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan.” (Devadaha Sutta, Majjhima Nikaya 101, Tipitaka Pali).
Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? Saya menganggap Brahma adalah ketidakadilan. Yang membuat dunia yang diatur keliru.” [Bhuridatta Jataka, Jataka 543]
Maka kesimpulannya dalam ajaran Buddha, tidak dikenal adanya pencipta atau pengatur kehidupan seperti yang tercatat dalam kitab tersebut. Karena ketidaktahuan atau ketakutan, pada awalnya evolusi manusia memunculkan konsep pencipta atau pengatur kehidupan. Semua yang terjadi ada sebab dan ada akibat, inilah Hukum Karma. Begitu pula ada Hukum Fisika (utu niyama), Hukum Biologis (bijaniyama), dll.
[11]Kāranodakaśāyi Vishnu (Mahā Vishnu) Wisnu yang berbaring dalam lautan penyebab dan Beliau menghembuskan banyak alam semesta. Lautan penyebab (Causal Ocean / Lautan Energi) adalah energi eksternal Tuhan. Sesuai dengan teori fisika terkini dimana energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Jadi dari setiap “pori-pori” Kāranodakaśāyi Visnu muncullah Garbhodakaśāyī Visnu yang memunculkan sebuah alam semesta. Dari satu “pori-pori” memunculkan satu alam semesta yang terdiri dari jutaan galaksi. Garbhodakaśāyī Visnu dan Dewa Brahma ada di tiap-tiap alam semesta.
“Benih-benih transendental (anti materi) Sankarsana muncul dari “pori-pori kulit” Maha Visnu dalam bentuk telur emas yang tak terhitung jumlahnya sambil maha-Visnu “berbaring” di lautan penyebab, semua telur tersebut tetap tertutupi oleh unsur material besar.” (Brahma Samhita Sloka 13).
Secara Ilmiah munculnya alam semesta dari “pori-pori Tuhan” dalam wujud Kāranodakaśāyi Visnu ini merupakan area tempat terjadinya perubahan dari Energi menjadi Materi (penciptaan alam semesta materi), yang merupakan kebalikan dari Pralaya dimana materi berubah menjadi energi (peleburan). Itulah maka Veda tidak menggunakan istilah kiamat tetapi peleburan, karena semata-mata hanyalah peleburan dari materi menjadi energi (tenaga). Ada beberapa tahap Pralaya yang skala waktunya mulai 4,3 milyar tahun (1 hari siang Brahma) sampai 311 triliun tahun bumi (akhir hidup Dewa Brahma). Alam semesta ini sedang berada di tahun ke-51 Brahma atau 155 triliun tahun Bumi setelah Brahma lahir. Setelah Brahma melewati usia ke-100, siklus baru dimulai lagi, segala ciptaan yang sudah dimusnahkan diciptakan kembali, begitu seterusnya.
Bhagavad-gita 9.7 : “Wahai putera Kunti, pada akhir jaman, semua manifestasi material masuk ke dalam tenagaKu, dan pada awal jaman lain, Aku menciptakannya sekali lagi dengan kekuatan-Ku.”
Bhagavad-gita 9.8 : “Seluruh susunan alam semesta di bawah-Ku. Atas kehendak-Ku alam semesta dengan sendirinya diwujudkan berulang kali. Atas kehendak-Ku akhirnya alam semesta dileburkan.”
Bhagavad-gita 9.10 : “Alam material ini, salah satu di antara tenaga-tenaga-Ku, bekerja di bawah perintah-Ku, dan menghasilkan semua makhluk baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, wahai putera Kunti. Di bawah hukum-hukum alam material, manifestasi ini diciptakan dan dilebur berulang kali.”
Śrīmad Bhāgavatam 5.18.31 : “Ya Tuhan, manifestasi kosmik yang terlihat ini adalah demonstrasi energi kreatif Anda sendiri. Karena bentuk-bentuk yang tak terhitung jumlahnya dalam bentuk manifestasi kosmik hanyalah sebuah layar energi eksternal Anda semata”.
Dalam kitab Purana dan Upanisad digambarkan bahwa alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi. Penciptaan alam semesta dalam kitab Upanisad diuraikan seperti laba-laba memintal benangnya tahap demi tahap. Akhirnya kita sampai pada kesimpulan bahwa alam semesta ini menyerupai sebutir telur akan tetapi informasi ini telah terdapat pada literature Hindu. (Alan Kogut, NASA)
[12]Penciptaan Langit dan Bumi menurut Al Qur’an terdapat di surat [7:54, 10:3, 11:7, 21:30, 25:59, 32:4, 57:4, 41:9-12 dan 79:27-33]. Surat Al Anbiyaa’ 21:30, menunjukan keadaan Bumi dan langit saat yang awal mula: Al Anbiyaa’ 21:30, Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?.
Surat Fushshilat 41: 9-12, menyajikan urutan pengerjaan Bagaimana penciptaan yang dilakukan Allah:
·           Pertama,(41:9) Bumi di ciptakan dalam dua masa
·           Kedua, (41:10) Segala isi Bumi diciptakan total dalam empat masa
·           Ketiga, (41:11) Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” Surat diatas jelas menunjukan bahwa kedudukan Bumi dan Langit adalah sederajat, bumi bukan bagian dari langit. Bumi diciptakan terlebih dahulu, diselesaikan baru kemudian Allah menyelesaikan Langit dan itu dibuktikan di ayat selanjutnya
·           Keempat, (41:12) Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Surat An Naazi’ aat 79:27-33, juga menyajikan urutan pengerjaan penciptaan yang dilakukan Allah. Allah menyatakan bahwa penciptaan Manusia itu jauh lebih mudah daripada penciptaan Langit. Ia meninggikan Bangunannya lalu menyempurnakannya (79:28). Kemudian ia Menciptakan siang dan malam. Kemudian bumi dihamparkannya (diisi) dengan memancarkan Air dan menumbuhkan tumbuhan, gunung-gunung dipancangkan teguh (79:31-32). Untuk kesenangan Manusia dan binatang ternak milik manusia (79:33).
Al Baqarah yang diturunkan Allah di 2 H (624 M). Surat ini termasuk golongan surat Al madaniyya yang turun lebih belakangan dari surat Al Makiyya lainnya yaitu 41, 51, 21 dan surat 79. Di surat Al Baqarah 2:29, Muhammad dan Jibril bersabda bahwa: “Ia yang menjadikan segala sesuatunya untukmu di Bumi. Kemudian Ia meninggikan (Iswata ila) langit dan dijadikanNya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. Setelah semuanya siap, di dilanjutkan dengan penciptaan Adam di Al Baqarah 2:30-36, surat itu memperkuat surat-surat penciptaan manusia yang turun sebelumnya yaitu di 7:10-24, 15:26-33 dan 38:71-84. Disebutkan bahwa Adam diciptakan dari tanah kemudian Allah berkata, ‘Jadilah!’ [3:59] Pernyataan di surat Al Baqarah 2:29-36 sangat jelas, terstruktur dan ada urutannya, yaitu menciptakan bumi, kemudian langit ditambah 7 langit dan terakhir Penciptakan Manusia. Jadi, saat manusia diciptakan maka penciptaan langit sudah final, tidak ada pengembangan langit lagi. Bukti itu ada di ayat 2:31. Kemudian Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar”.

























[13]Ada banyak kitab besar yang disebut suci : Alkitab untuk orang-orang Katolik dan Kristen, Al Qur’an untuk orang-orang Islam, Veda untuk orang-orang Hindu, dan Tripitaka untuk orang-orang Buddha. Semua itu memainkan peran yang sentral dalam pembentukan dan kehidupan rohaniah orang-orang yang hidup dalam terang kitab-kitab tersebut. Pada beberapa kebudayaan ada yang tidak mempunyai “kitab suci” yang tertulis, seperti kebudayaan pada daerah pedalaman dan lain-lain.
[14]Kitab Suci adalah gabungan dari dua kata yaitu Kitab dan Suci. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata Kitab memiliki arti sebuah buku sedangkan kata Suci memiliki arti (bersih, dalam arti keagamaan yaitu bebas dari dosa, bebas dari noda, bebas dari kesalahan). Didalamnya berisi Wahyu Tuhan yang di bukukan. Yang memuat ajaran-ajaran tentang seluruh aspek kehidupan bagi seluruh umat beragama. Berikut adalah nama-nama kitab suci dari beberapa agama, yaitu :
Agama Buddha           : Tripitaka
Agama Hindu             : Veda, biasa juga disebut dengan nama Catur Veda, terdiri dari: Rigveda, Yajurveda,    Samaveda, Atharvaveda
Agama Islam               : Al-Qur'an
Agama Kristen            : Katolik dan Ortodoks : Alkitab (termasuk Deuterokanonika); Protestan : Alkitab (tanpa Deuterokanonika)
Di bawah ini adalah beberapa pernyataan tentang kitab suci itu sendiri, baik yang diambil dari kitabnya sendiri maupun dari penganut-penganut agama-agama :
[15]Alkitab adalah hembusan Allah (2 Tim. 3:16). Ini mengatakan bahwa Alkitab bukan sekali-kali berasal dari maksud atau pikiran manusia, melainkan Allah melalui RohNya menghembuskan maksud dan firman-Nya ke dalam penulis Alkitab, kemudian dihembuskan pula dari dalam mereka. Karenanya dalam Alkitab terkandung kadar Allah, juga cita rasa Allah. Berhubung Alkitab adalah Allah melalui Roh-Nya menghembuskan firman-Nya dari dalam manusia, tentunya bukan berasal dari maksud manusia, melainkan manusia digerakkan Roh Kudus sehingga mengutarakan daripada Allah (2 Ptr 1:20, 21). Kalimat ini mempunyai dua makna : Pertama, yaitu manusia didorong Roh Kudus; kedua, yaitu mengutarakan daripada Allah. Penulis Alkitab diinspirasi Allah di bawah kuasa Roh Kudus, dihembusi serta dipimpin Roh Kudus sambil mengucapkan firman Allah. Bahkan mereka mengutarakannya dari dalam Allah. Roh Allah yang menggerakkan orang berbicara, dan manusia mengucapkan dari dalam Allah. Dengan kata lain, Allah mengutarakan diri-Nya dari dalam manusia dan melalui mulut manusia. 2 Samuel 23:2 berkata, "Roh TUHAN berbicara dengan perantaraanku, firmanNya ada di lidahku." Inilah yang diungkapkan oleh Daud. Ia sendiri memberitahu kita, bahwa kata­katanya itu adalah Roh Allah berfirman melalui dia, bahkan firman Allah di dalam mulutnya. Bukan sekedar Roh Kudus berfirman melalui dia, bahkan firman Allah ditaruh di dalam mulutnya. Firman Allah diutarakan dari mulutnya, itulah Alkitab. Pada zaman Perjanjian Lama, Allah bersabda di dalam para nabi. Pada zaman Perjanjian Baru, Allah bersabda di dalam PutraNya, Tuhan Yesus (Ibr. 1:1-2). Jadi sabda yang disampaikan oleh para nabi pada Perjanjian Lama, maupun sabda yang disampaikan oleh Tuhan Yesus pada Perjanjian Baru, sernuanya merupakan sabda Allah yang berasal daripada Allah. Alkitab adalah wahyu Roh Kudus. Yohanes 16:13 berkata, "Apabila Ia datang, yaitu Roh kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakan-Nya, dan Ia akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang akan datang.” Yang diungkapkan oleh Tuhan di sini juga membuktikan bahwa setelah Roh Kudus turun, apa yang diutarakan dan yang ditulis murid-murid-Nya, adalah yang "Roh Kudus beritahukan" kepada mereka. Kata-kata Tuhan ini pun membuktikan, bahwa setelah Ia naik ke sorga, kitab-kitab Perjanjian Baru yang ditulis oleh murid-muridNya, berasal dari wahyu Roh Kudus, dan otoritas Ilahinya diakui juga oleh-Nya.
Roh Kudus berbicara melalui orang, sabda Allah yang diutarakan melalui mulut orang (2 Sam. 23:2), sabda yang dituturkan orang di bawah inspirasi Roh Kudus (Mark 12:36). Perjanjian Lama adalah firman yang Allah pesankan kepada nabi (Yeremia 1:7), firman Allah menimpa kepada nabi (Yehezkiel 1:3), firman yang diungkapkan Roh Allah melalui para nabi (Zak 7:7, Kis 3:18, 28:25; Rm 1:2; 1 Ptr 1:10-12.). Perjanjian Baru ada yang merupakan firman yang Allah sampaikan di dalam Tuhan Yesus (Yoh. 14:10), ada yang merupakan tulisan para rasul yang diajarkan Roh Kudus (1 Kor. 2:13). Tulisan yang Roh Kudus ajarkan rasul, sama Ilahinya dengan Perjanjian Lama (2 Pet. 3:15,16). Karenanya seluruh Alkitab berasal dari firman Allah, kata demi kata, kalimat demi kalimat, titik demi titik (Mat 5:18), semuanya diilhamkan oleh Allah, sehingga manusia tidak boleh menambahkan apapun, atau pun mengurangi apa pun (Why 22:18,19). [16]Alkitab ditulis dalam kurun waktu 1500 tahun, dari tahun 1500 BC – 100 AD oleh 35 penulis selama lebih dari 35 generasi, dari segala lapisan masyarakat. Ditulis diberbagai tempat yang berbeda dalam waktu yang berbeda-beda. Ditulis dalam dua bahasa yang berbeda: Bahasa Ibrani (PL) dan Yunani (PB). Alkitab Sungguh suatu hal yang benar bahwa segala sesuatu yang diperlukan untuk menjadi orang Kristen, hidup sebagai orang Kristen, dan bertumbuh sebagai orang Kristen disajikan secara jelas dalam Alkitab. Selanjutnya, hidup orang percaya tidak hanya dimulai dengan Alkitab, tetapi harus selalu berjalan seturut dengan Alkitab. Matius 4:4, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Sama seperti tubuh jasmani kita memerlukan makanan jasmani setiap hari, demikian juga tubuh rohani kita memerlukan makanan dari firman Allah setiap hari.


[17]Umat Kristen non Katolik sering mengatakan bahwa kitab-kitab deuterokanonika disebut kitab-kitab “Apokrif” atau “apocrypha” artinya adalah ‘tidak jelas asal usulnya’ yang berkonotasi dengan buku yang tidak diketahui pengarangnya atau buku yang keasliannya dipertanyakan. Namun secara umum, perkataan “apokrif” tadi diartikan sebagai sesuatu yang tersembunyi, salah, buruk dan seharusnya tidak menjadi bagian dari Kitab Suci. Jika kita membaca isi kitab Deuterokanonika tersebut tidak ada yang bertentangan dengan isi Alkitab yang lain, sehingga sesungguhnya tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa kita-kitab tersebut “buruk”. Kitab tersebut malah memperjelas apa yang disampaikan dalam kitab Perjanjian Lama yang lain. Contohnya saja ditambahan kitab Esther, ada uraian tentang mimpi Mordekhai, surat penetapan Haman, doa Mordekhai dan doa Esther, yang jika dibaca dalam kesatuan dengan Kitab Esther dalam kanon terdahulu dapat menjelaskan isi Kitab Esther secara lebih lengkap dan membuat ceritanya masuk akal. (Misalnya, di kitab terdahulu hanya disebut ada surat Haman, tetapi isi persisnya tidak dijabarkan, sedangkan di kitab tambahan Esther isi surat itu dijabarkan). Apa alasan persisnya kenapa disebut demikian memang tidak diketahui. Ada yang menyebutkan karena naskah asli dalam bahasa Ibraninya tidak diketemukan, namun yang ada hanya terjemahan bahasa Yunaninya, walaupun para Bapa Gereja pada jemaat Kristen awal tidak meragukan keaslian kitab-kitab ini. Kitab-kitab yang termasuk Deuterokanonika ini adalah:
-  Tobit
-  Yudit
-  Tambahan kitab Ester
-  Kebijaksanaan
-  Sirakh
-  Barukh, termasuk tambahan surat Yeremia
-  Tambahan kitab Daniel
-  1 Makabe
-  2 Makabe
Kemungkinan Luther mencoret kitab Deuterokanonika terutama karena tidak setuju dengan isi Kitab 2 Makabe yang mengajarkan untuk berdoa bagi keselamatan jiwa orang-orang yang telah meninggal, sebab Luther berpendapat bahwa keselamatan diperoleh hanya karena iman (Sola Fide).      
[18]Al-Qur’ān (Arab: القرآن) adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, dan bagian dari rukun iman, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui perantaraan Malaikat Jibril. Dan sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-'Alaq ayat 1-5. Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut:
“Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”. Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut:
"Al-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas".
Dengan definisi tersebut di atas sebagaimana dipercayai Muslim, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad SAW, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada umat Nabi Musa AS atau Kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi Isa AS. Demikian pula firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al-Qur’an. Kemurnian Kitab Al-Quran ini dijamin langsung oleh Allah, yaitu Dzat yang menciptakan dan menurunkan Al-Quran itu sendiri. Dan pada kenyataannya kita bisa melihat, satu-satu kitab yang mudah dipelajari bahkan sampai dihafal oleh beribu-ribu umat Islam.
[19]Seolah dari api yang berasal dari bahan bakar yang lembab membubunglah gumpalan asap, dan sesungguhnya lihatlah dari situ Brahman yang Agung menghembuskan Rig Veda, Yajur Veda, Sama Veda, dan Atharva Veda. Veda-veda itu dinamakan Sruti (sesuatu yang didengar), sedang tulisan-tulisan lainnya dikenal dengan Smriti (sesuatu yang diingat). Saga-saga dan penglihatan yang luhur itu dikatakan sebagai telah mendengar kebenaran agama yang abadi dan meninggalkan catatan tentangnya bagi kepentingan orang lain. Sesuai dengan itu, Sruti kemudian menjadi otoritas yang tertinggi bagi Hindu
[20]Kitab Tipiţaka atau juga dikenal dengan sebutan Kanon Pali (Pali Canon) merupakan bentuk tertulis dari ajaran Buddha Gauttama selama 45 tahun pengajarannya di dunia. Terhitung mulai dari beliau mencapai pencerahan sempurna sampai beliau meninggal dunia atau yang dikenal dengan istilah parinibbāna. Di tahun-tahun awal setelah beliau wafat, ajaran beliau dihafalkan oleh para murid-muridnya dan diteruskan secara lisan dari generasi ke generasi. Tiga bulan setelah beiau parinibanna, para siswa utama berkumpul untuk mengulang secara bersama-sama seluruh ajaran Sang Buddha. Ajaran ini kemudian dikelompokan secara sistematis dan seksama sehingga terbagi menjadi 3 bagian utama yaitu Vinaya Piţaka, Suttanta Piţaka dan Abhidhamma Piţaka. Arti harafiah dari Pitaka adalah keranjang sehingga Tipitaka dapat diartikan sebagai 3 keranjang atau 3 kelompok ajaran. Vinaya Piţaka berisi berbagai aturan perilaku dan disiplin. Suttanta Piţaka yang merupakan kelompok terbesar berisi berbagai khotbah Sang Buddha (dan juga termasuk beberapa khotbah murid utama beliau). Sedangkan Abhidhamma Piţaka berisi ajaran yang lebih dalam (filosofis) dibandingkan yang tercantum dalam Suttanta Piţaka, seperti pengajaran tentang kebenaran tertinggi.
Kadang kita sebagai orang Kristen sering menganggap kitab suci dari agama lain dengan rasa kurang simpatik. Dan juga kita kurang merasakan peranan dari kitab suci di atas di dalam kehidupan sesamanya serta keyakinan mereka yang sungguh-sungguh terhadap hakekat kitab-kitab itu sebagai wahyu Ilahi. Kita dapat membaca kitab suci mereka, namun jika kita telah benar-benar memegang teguh apa yang kita percayai. Beberapa orang percaya membaca kitab suci agama lain telah membantu pertumbuhan rohaniah mereka sendiri. Sedang yang lain menentang sikap tersebut.








Secara tidak langsung agama-agama lain selain Kristen juga menafsirkan tentang Yesus. Cerita tentang Yesus dapat kita temui di dalam Perjanjian Baru. Sejak awal mula, kekristenan sudah memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus itu. Dan ternyata orang-orang berkepercayaan lain mempunyai perspektif atau pandangan yang berbeda tentang Yesus Kristus. Atau mungkin pemikiran mereka tentang Yesus dapat membantu kita melihat sesuatu yang mungkin tidak kita lihat dan menambah sesuatu yang baru tentang iman kita. Berikut adalah pandangan kepercayaan lain mengenai Yesus :
[21]Yesus sungguh-sungguh manusia. Dari segala orang yang mengenal Yesus di Nazareth atau telah menjumpai, melihat atau mendengarkannya tak seorang pun ragu-ragu bahwa Yesus sungguh-sungguh manusia. Mereka mengenal ibunya yang melahirkanNya di kota Betlehem. Orang telah melihat dia bekerja di bengkel Yusuf. Semua orang memanggilnya “anak tukang kayu”. Dia mengenal kegembiraan dan kesusahan, Dia lapar dan haus, lelah dan tidur seperti tiap-tiap orang. Dia dapat tertawa dan menangis seperti kita dan Dia mengalami nasib yang dialami setiap orang manusia, yakni Dia telah mati atau meninggal. Dengan kata lain Tuhan itu senasib dengan manusia. Dan Yesus Kristus juga sungguh-sungguh Allah. Kitab Suci mengajar kita persis yang sebaliknya, yaitu bahwa kita justru dalam Kristus baru mulai tahu siapa dan apa Allah itu, karena “Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujudnya”. Seorang Kristen percaya bahwa Kristus itu Allah, karena Kristus mengajar demikian tentang diriNya sendiri dan tingkah lakuNya dan mujizat-mujizatNya membuktikan bahwa Ia mengatakan yang benar. Begitu Allah menyebut Kristus ketika Ia dibaptiskan Yohanes Pembaptis: “Engkau PuteraKu yang tercinta, Engkau berkenan kepadaKu”. Jika Kristus biicara tentang Allah biasanya Ia menyebutNya “BapaKu”. Untuk menjelaskan bahwa hubunganNya dengan Allah itu lain sekali dengan hubungan kita, maka Kristus bicara tentang “BapaKu” dan “Bapamu”. Hanya satu kali saja Kristus memakai perkataan “Bapa kami” yaitu ketika Ia mengajar orang-orang bagaimana mereka harus menyebut Allah waktu berdoa. Kristus berkata bahwa Dia dan Allah adalah satu: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10, 30). “Barangsiapa melihat Aku melihat Bapa” (Yoh 14, 9). “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh 14, 11). Inilah beberapa kutipan dari Kitab Suci untuk membuktikan bahawa Yesus mengajar bahwa Ia sungguh-sungguh Allah. Dia menyadari kekuasaanNya Ilahi: atas namaNya sendiri Ia mengerjakan mujizat-mujizat, atas namaNya sendiri Ia membangkitkan orang dari kematian dan mengampuni dosa. Seorang Kristen percaya bahwa Kristus yang berwujud manusia itu sungguh-sungguh Allah juga tidak kurang dari Bapa dan Roh Kudus. Tetapi dia juga percaya bahwa Kristus yang berhakekat Allah itu, sungguh-sungguh manusia juga seperti orang-orang lain.

[22]Beberapa catatan atau pandangan penting mengenai Yesus Kristus dalam Al-Qur'an dan Hadist, sebagai berikut :
Silsilah Isa tersambung dari Ibrahim melalui putranya Ishak, dimana Nabi Muhammad juga berasal dari keturunan saudaranya Ismail. Yesus adalah salah satu nabi yang tergolong dalam Ulul Azmi, yakni Nabi dan Rasul yang memiliki kedudukan tinggi/istimewa bersama dengan Muhammad, Ibrahim, Musa dan Nuh. Yesus hanya diutus khusus untuk kaum Bani Israil. Yesus bukanlah Tuhan maupun anak Tuhan, melainkan salah seorang manusia biasa yang diangkat menjadi nabi dan rasul, sebagaimana juga setiap nabi lain yang diutus pada masing-masing kaum. Kelahiran Yesus terjadi dengan ajaib, tanpa ayah biologis, atas kekuasaan Tuhan. Ibunya yang bernama Maryam, adalah dari golongan mereka yang suci dan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Yesus memiliki beberapa keajaiban atas kekuasaan Tuhan. Di samping kelahirannya, Ia mampu berbicara saat berumur hanya beberapa hari, Ia berbicara dan membela Ibunya dari tuduhan perzinaan. Dalam Qur'an juga diceritakan saat Ia menghidupkan orang yang sudah mati, menyembuhkan kebutaan dan lepra. Yesus menerima wahyu dari Tuhan yakni Injil (merujuk pada perjanjian baru agama Kristen), namun versi yang dimiliki oleh umat Kristiani saat ini, menurut umat Islam telah diubah dari versi aslinya. Beberapa pendapat dalam Islam menyebutkan bahwa Injil Barnabas adalah versi Injil paling akurat yang ada saat ini.
Yesus tidak dibunuh maupun disalib, Tuhan membuatnya terlihat seperti itu untuk mengelabui musuh-musuhnya. Terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa salah seorang musuhnya diserupakan dengan dia, sedangkan Isa sendiri diangkat langsung ke surga dan musuhnya yang diserupakan tadi adalah orang yang disalib. Sementara pendapat lain (antara lain Ahmad Deedat dengan bersumber dari Alkitab) mengatakan bahwa Isa benar-benar disalib namun tidak hingga mati kemudian diangkat ke surga. Terdapat pula pendapat lain yang mengatakan bahwa yang disalib oleh tentara Roma bukan Isa melainkan salah seorang pengikutnya yaitu Yudas Iskariot. Yesus masih hidup dan berada di surga, suatu hari Ia akan datang kembali ke bumi untuk melawan Dajjal (atau Antikristus dalam agama kristen) dan merupakan salah satu tanda-tanda dekatnya akhir zaman. Yesus bukan penebus dosa manusia, Islam menolak konsep dosa turunan dan menganut konsep bahwa setiap manusia bertanggung jawab dan hanya akan diadili atas perbuatannya sendiri.
[23]Ada 2 nats yang sangat mempengaruhi Panikkar, yakni : “Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan dirinya” (Kis 14:16-17). Dan “Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang Kuberitakan kepada kamu” (Kis 17:23b). dari kedua nats ini ia menarik kesimpulan bahwa Kristus hadir dalam agama Hindu dan dengan demikian agama Hindu adalah cara yang efektif bagi jutaan orang untuk memperoleh keselamatan dan untuk dipersatukan dengan Allah, justru karena kehadiran Kristus terselubung di dalamnya. Di dalam agama Kristen, Kristus dinyatakan dengan sempurna. Oleh karena itu, tugas kaum Kristen adalah untuk membuka selubung yang ada di agama Hindu.
Mahatma Gandhi melihat Yesus sebagai Satyagrahi (dia yang berpegang pada kebenaran yang tertinggi). “Yang saya tangkap dari pesan Yesus tercakup dalam khotbah di bukit. Jiwa dari khotbah di bukit berpacu hampir sama seperti Bhagavadgita. Khotbah itu membuat Yesus sangat tercinta bagiku” demikian penuturan Mahatma Gandhi. Ia mengakui Yesus sebagai martir, penjelmaan dari pengorbanan sejati dan ia melihat salib sebagai teladan yang agung bagi dunia.
[24]Buddha tidak pernah menganggap dirinya sebagai Allah atau dewa apa pun. Sebaliknya, dia memandang dirinya sebagai “penunjuk jalan” bagi orang-orang lain. Hanya setelah kematiannya barulah dia diangkat menjadi Allah oleh beberapa pengikutnya, meskipun tidak semua pengikutnya melihat dia sedemikian. Sebaliknya, dalam kekristenan, dikatakan dengan jelas sekali dalam Alkitab bahwa Yesus adalah Anak Allah (Matius 3:17): “Lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan" dan bahwa Dia dan Allah adalah satu (Yohanes 10:30). Seseorang tidak bisa memandang dirinya sebagai orang Kristen tanpa percaya kepada Yesus sebagai Allah. Yesus mengajarkan bahwa Dia adalah jalan dan bukan sekedar seseorang yang menunjukkan jalan, sebagaimana yang ditegaskan oleh Yohanes 14:6: Kata Yesus kepadanya "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Ketika Gautama meninggal dunia, Budhisme sudah merupakan pengaruh besar di India tiga ratus tahun kemudian, Buddhisme telah mencakup sebagian besar Asia. Kitab-kitab suci dan perkataan-perkataan yang dikaitkan dengan sang Buddha ditulis sekitar empat ratus tahun setelah kematiannya. Dalam Buddhisme, dosa umumnya dipandang sebagai ketidaktahuan. Walaupun dosa dimengerti sebagai “kekeliruan moral,” "kejahatan" dan "kebaikan" dipahami dalam konteks amoral. Karma dipahami sebagai keseimbangan alam dan bukan yang diterapkan secara pribadi. Alam bukan moral; karena itu, karma bukanlah aturan moral, dan dosa pada dasarnya bukanlah tidak bermoral. Karena itu dapatlah kita katakan, berdasarkan pemikiran Buddha, bahwa kesalahan kita bukanlah masalah moral karena pada dasarnya itu bukanlah kesalahan antar pribadi. Konsekuensi pemahaman yang demikian amatlah merusak. Untuk orang Buddha, dosa lebih serupa dengan salah langkah dan bukannya pelanggaran terhadap natur Allah yang suci. Pemahaman sedemikian akan dosa tidak sejalan dengan kesadaran naluri moral bahwa manusia bersalah di hadapan Allah yang suci karena dosa mereka (Roma 1-2). Karena Buddha menganggap bahwa dosa bukan bersifat pribadi dan adalah kekeliruan yang dapat diperbaiki, Buddhisme tidak menerima doktrin kejatuhan, doktrin dasar dalam kekristenan. Alkitab memberitahu kita bahwa dosa manusia adalah masalah kekal yang berdampak kekal. Dalam Budhisme tidak diperlukan juruselamat untuk menyelamatkan orang dari dosa yang mencelakakan. Bagi orang kristen, Yesus adalah satu-satunya jalan untuk selamat dari hukuman kekal. Untuk orang Buddha, yang ada hanyalah hidup secara etis dan bermeditasi kepada dewa dewi dengan harapan dapat memperoleh pencerahan dan Nirvana. Mungkin sekali seseorang harus mengalami sejumlah reinkarnasi untuk melunasi hutang karma yang begitu bertumpuk. Untuk pengikut Budhisme yang sejati, agama itu adalah sebuah filsafat moral dan etis, yang dibungkus dalam penyangkalan terhadap diri sendiri seumur hidup.
Orang kristen mengetahui bahwa Allah mengutus anak-Nya untuk mati bagi kita, sekali, supaya kita tidak perlu menderita secara kekal. Dia mengutus Anak-Nya supaya kita tahu bahwa kita tidak sendiri dan bahwa kita dikasihi. Kekristenan mengetahui bahwa hidup itu bukan hanya penderitaan dan mati, “Dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (2Tim 1:10). Buddhisme mengajarkan bahwa Nirvana adalah keberadaan tertinggi, suatu kondisi yang murni, dan itu dicapai dengan cara yang relatif terhadap orang itu. Nirvana tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan tatanan logis dan karena itu tidak dapat diajarkan, hanya direalisasikan. Sebaliknya, pengajaran Yesus mengenai surga amat jelas. Dia mengajarkan bahwa tubuh fisik kita akan mati, namun roh kita akan bersama dengan Dia di surga (Markus 12:5). Buddha mengajarkan bahwa orang tidak memiliki jiwa secara pribadi, karena diri sendiri atau ego adalah ilusi belaka. Untuk seorang Buddha, tidak ada Bapa surgawi yang berbelas kasihan yang mengutus Anak-Nya untuk mati bagi kita, untuk keselamatan kita, untuk menyediakan jalan bagi kita mencapai kemuliaan-Nya.
Inti dari pandangan-pandangan di atas adalah apapun pandangan dari kepercayaan lain tentang siapa Yesus Kristus dan apa yang telah di perbuatnya, entah dalam pandangan mereka itu baik atau buruk biarlah itu menjadi sebuah pelajaran bagi kita sebagai orang-orang percaya. Sebagai pengikut Kristus kita tidak seharusnya cepat bereaksi dengan tindakan yang gegabah, namun walaupun begitu kita harus lebih menghormati pandangan mereka tentang kepercayaan kita. Justru dengan adanya pandangan yang pro dan kontra kita dituntut untuk lebih mengenal dan mengimani siapa Yesus dalam hidup kita.











Persoalan keselamatan mungkin bukan merupakan suatu masalah yang paling sulit bagi pemahaman agama-agama. Kesulitan tersebut muncul antara lain karena kenyataan bahwa pengalaman rohaniah tersebut demikian menentukan sehingga mereka yang hidupnya telah diubah oleh pengalaman itu cenderung membuat klaim yang eksklusif terhadap jalan atau pengalaman keselamatan mereka. Berikut akan dijabarkan mengenai pandangan keselamatan menurut berbagai agama.
[25]Biasanya setiap orang Kristen berpendapat bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus Kristus, bahkan lebih sempit lagi tidak ada keselamatan di luar gereja. Adapun dasar yang dipakai adalah Yohanes 14:6 “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”. Yesuslah jalan itu dan di luar Dia manusia akan tersesat. Banyak orang yang berbicara tentang kebenaran, tetapi hanya Yesuslah yang dapat mengatakan Akulah kebenaran itu. Orang lain mengajarkan tentang jalan kehidupan, tetapi hanya dalam Yesus orang menemukan kehidupan itu. Karena itu hanya Dia saja yang dapat membawa manusia kepada Tuhan.
Yesus telah menyelamatkan setiap orang di muka bumi ini dengan penyalibannya 2000 tahun yang lalu dan bila seseorang menerima Yesus saat ini sesungguhnya orang tersebut sudah diselamatkan 2000 tahun lalu, namun orang tersebut baru mengulurkan tangannya saat ini untuk bersatu dengan Yesus, sementara banyak orang lain belum mau menerima atau menyangkal penebusan yang dilakukan Yesus 2000 tahun yang lalu. Selanjutnya dalam sisa hidupnya orang tersebut harus menjalankan perintah sesuai dengan yang diajarkan Yesus. Juga menjalankan amanat Agung seperti yang tertulis dalam Matius 28:19-20. Di dalam ayat tersebut Yesus menyatakan misi untuk semua pengikutnya. Pembuktian kepercayaan umat Kristen bahwa Yesus adalah Juru Selamat dunia adalah dari ayat-ayat berikut :
-    (Efesus 2:8-9) “Semua karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
-    (Yohanes 3:16) “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
-    (1 petrus 2:24) “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran.”
-    (Roma 10:9-10) “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.”
Namun Yesus sendiri sudah berkata sebelumnya bahwa untuk menjadi muridNya bukanlah hal yang mudah, bahkan Ia berkata kita seperti seekor domba di tengah-tengah serigala (Matius 10:16). Dan untuk menjadi mudridNya ada syarat yang Ia tetapkan, yaitu menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia.
Kesimpulan dari pernyataan yang kita dapat dari pernyataan dan ayat-ayat diatas mengemukakan bahwa menurut ajaran Kristen Juruselamat yang dapat menebus dosa-dosa manusia adalah Yesus. Dalam Yesus, semua orang telah diselamatkan oleh kematianNya di kayu salib, dosa-dosa kita yang tadinya merah seperti kirmizi telah dibayar lunas oleh Dia.
[26]Pada dasarnya ajaran Katholik sama dengan Kristen yaitu mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat serta keselamatan adalah anugrah dari Allah. Namun Katholik punya konsep keselamatan tersendiri. Dalam ajaran Katholik, orang yang diselamatkan adalah orang yang mengimani Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat serta mengimani bahwa Gereja Katholik adalah satu-satunya agen keselamatan. Sehingga tidak ada agen lain yang dapat membawa keselamatan selain Gereja Katholik. Namun, ajaran Katholik juga meyakini bahwa masih ada terbuka peluang keselamatan bagi mereka yang tidak masuk dalam anggota Gereja Katholik. Dengan catatan,orang ini sama sekali tidak bisa atau tidak pernah mendengar ajaran Gereja Katholik tapi selalu mencari akan kebenaran yang sejati dan tidak banyak berbuat dosa. Ini yang dinamakan dengan Invisible Ignorance, dimana semuanya adalah misteri Tuhan. Namun yang pasti, bagi mereka yang mengikuti ajaran Katholik, mereka juga harus mengikuti semua perintah dan larangan dalam ajaran Katholik untuk dapat masuk surga.
[27]Islam mempercayai untuk masuk ke dalam kehidupan yang kekal dalam kebahagiaan, atau yang dikenal dengan surga, jalannya sangat sulit sehingga kadang digambarkan seperti melewati titian rambut dibelah tujuh. Tapi syaratnya memang sederhana yaitu mengimani Allah SWT sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai nabiNya. Ajaran Islam juga mengharuskan umatnya mengikuti perintah-perintah yang telah diperintahkan Allah SAW dan nabi Muhammad. Dasar agama Islam tidak dari Al Qur’an saja tetapi juga Al Hadist dan As Sunnah. Secara singkat, konsep keselamatan dalam agama Islam ada 2 hal yaitu Rukun Iman dan Rukun Islam.
Rukun Iman, yaitu sebagai berikut :
-    Percaya keberadaan Allah
-    Percaya keberadaan Malaikat
-    Percaya Kitab-kitabnya
-    Percaya kepada para utusanNya
-    Percaya adanya hari kiamat
-    Percaya adanya takdir
Rukun Islam :
-    Kalimat Syahadat
-    Shalat 5 waktu
-    Melaksanakan Zakat
-    Berpuasa di bulan Ramadhan
-    Naik haji bila mampu
Menurut ajaran Islam, dengan menaati kedua hal tersebut maka akan menuntun manusia ke jalan yang benar. Sedangkan nanti jika tiba pada hari kiamat, manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Akan ada yang langsung ke neraka atau surga, tapi ada juga yangg harus melewati ujian. Dimana jika gagal melaksanakan ujian, manusia akan masuk neraka sementara waktu sampai hukumannya setimpal dengan perbuatan jahatnya sebelum dipersilahkan masuk ke surga. Untuk masuk surga tidaklah mudah karena manusia bisa masuk surga jika timbangan amal kebaikan lebih besar daripada timbangan keburukan. Dan harus melewati jembatan yang lebarnya seperti rambut yang dibagi 7.
[28]Di dalam Buddha Dhamma, kita tidak diajarkan untuk “berdoa” kepada sosok Juru Selamat ataupun sosok Yang Maha Kuasa yang memiliki sifat-sifat serta kepribadian seperti halnya manusia. (Menghukum, memberikan pahala, mengasihi, membenci, murka, iri hati, tidak mau diduakan dsb). Sang Buddha pernah bersabda :
Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,
oleh diri sendiri seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri.
Tak seseorang pun yang dapat mensucikan orang lain.
(Dhammapada 165)
Dari Sabda Beliau tersebut diatas, dapat dimengerti bahwa tak peduli apapun agama dan kepercayaan seseorang, umat Kristiani, Muslim, Hindu, Yahudi, Tao, Kong Hu Cu, Buddha, maupun Atheis semuanya mempunyai hak dan kebebasan yang sama untuk dapat menikmati hidup yang bahagia dan kelak masuk ke “Alam Surga”, asalkan ia banyak berbuat kebajikan melalui pikiran, ucapan dan jasmani serta senantiasa menghindari kejahatan. Dan semua itu tidak bergantung kepada sosok makhluk Adikuasa manapun juga, semua semata-mata kembali kepada usaha kita sendiri.
Konsep agama Buddha tentang Keselamatan dan Kebebasan memang berbeda dengan agama-agama lainnya,  Jalan Keselamatan yang ditunjukkan oleh Sang Buddha bukanlah monopoli untuk suatu suku bangsa, ras, agama dan golongan tertentu saja, tapi untuk semua makhluk, seperti tercantum dalam Avatamsaka-sutra bab 10 :
“ Bagaikan awan hujan yang besar
Menjatuhkan hujan ke seluruh penjuru bumi ;
Curahan hujan tidak membeda-bedakan siapapun
Demikianlah kebenaran semua Buddha. “
Jalan keselamatan dan kebebasan dari kehidupan yang fana ini tidak bisa didapat dengan cara memohon-mohon kepada makhluk Adikuasa ataupun kekuatan eksternal lainnya, seseorang menjadi suci atau tidak suci tergantung pada dirinya sendiri. Kita sendirilah yang bertanggung jawab terhadap semua perbuatan yang kita lakukan dalam kehidupan ini, janganlah berusaha untuk menyalahkan pihak lain jika hidup ini dipenuhi dengan penderitaan, karena sejak awal dalam pengajaranNya Sang Buddha juga telah menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan ini adalah Dukkha.
Oleh karenanya Beliau mengajarkan Dhamma kepada kita, Beliau juga telah menunjukkan “Jalan Keselamatan dan kebebasan” itu dengan berbagai cara, Beliau menganjurkan dan senantiasa mendorong setiap orang untuk menjadikan Nibbana sebagai tujuan hidupnya serta agar berupaya dengan tekun dan bersungguh-sungguh untuk mencapainya. Beliau tidak pernah memberikan motivasi dengan janji-janji dan impian-impian indah tentang  kehidupan “Surga abadi”  dengan hanya berbekal percaya kepadanya dan “mengimani” apapun yang dikatakannya, Beliau telah mengajarkan kepada kita bahwa hanya diri kita sendirilah yang harus berusaha dan mengerjakan “Jalan Kebebasan” itu, Sang Buddha hanyalah menunjukkan Jalannya, seperti Sabda Beliau pada Dhammapada XX : 4 (276) :
Engkau sendirilah yang harus berusaha,
para Tathagata hanya menunjukkan “Jalan”.
Sang Buddha juga tidak pernah meminta ataupun memerintahkan “Pujalah saya, percayalah hanya kepadaku saja” dan kita akan mendapatkan jaminan berkah keselamatan duniawi dan pahala surgawi. Demikian pula kita tidak diajarkan untuk hanya percaya begitu saja terhadap sesuatu yang dikatakan sebagai Wahyu dari kitab suci yang mengatakan bahwa jika kita beriman sepenuhnya kepadaNya, maka semua dosa-dosa kita akan terhapuskan dan jaminannya adalah masuk ke Surga abadi. Tentang hal ini, kita dapat merujuk Sabda Beliau pada Jnanasarasamuccaya:31 :
"Sebagaimana orang bijaksana menguji emas
dengan membakar,memotong dan menggosoknya
(pada sepotong batu penguji),
demikian pula kalian menerima kata-kata-Ku setelah memeriksanya
dan bukan hanya karena rasa hormat terhadap-Ku."
Dalam Buddha Dhamma, keselamatan dan kebebasan ini dapat dicapai dalam kehidupan saat ini juga dan tidak perlu menunggu setelah kematian jasmaninya, sebagaimana disabdakan oleh Sang Buddha dalam Parinibbana Sutta :
" Mengenai Bhikkhu Salba , O, Ananda, dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran batinnya selama hidupnya itu, maka ia telah memperoleh kebebasan batiniah dari noda, telah mendapatkan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan hal itu telah dipahami dan disadarinya sendiri”
Demikian pula didalam Satipatthana Sutta (Majjhima Nikaya I;10), Beliau telah menunjukkan Jalan Keselamatan dan Kebebasan ini untuk dapat dicapai oleh setiap orang pada kehidupan sekarang ini juga, cuplikan Sutta tersebut, adalah sebagai berikut :
“ Para bhikkhu, ini adalah satu-satunya jalan untuk mensucikan makhluk-makhluk, untuk mengatasi penderitaan duka nestapa, untuk menghancurkan kesusahan dan kesedihan, untuk mencapai jalan kebenaran, untuk mencapai Nibbana (nirvana), jalan itu adalah Empat Perkembangan Perhatian .....”
“ Para bhikkhu, bilamana seseorang melaksanakan dengan sungguh-sungguh Empat Perkembangan Perhatian seperti ini selama tujuh tahun, maka salah sebuah dari dua hasil yang dapat dicapainya Pengetahuan (kesuciannya) pada kehidupan sekarang ini, atau jika masih ada bentuk ikatan tertentu ia mencapai tingkat kesucian Anagami.”
Jalan Kebebasan hanya dapat dicapai dengan cara mengalaminya sendiri dengan mempraktikkan Sila, Samadhi dan Panna. Di dalam “Mahasatipathana-Sutta”, dinyatakan
“Jalan ini, wahai para Bhikkhu, adalah jalan tunggal demi kesucian makhluk-makhluk, demi melampaui kesedihan dan ratap tangis, demi kepadaman penderitaan dan kepiluan hati, demi mencapai hal yang benar, demi membuat pencerahan Nibbâna; Jalan itu adalah Empat Perkembangan Perhatian (satipatthâna).
Di dalam Buddha Dhamma disebutkan bahwa Surga bukanlah tujuan utama dan tertinggi bagi umat Buddha maupun bagi semua makhluk. Terbebas dari daur ulang “Tumimbal lahir“ inilah yang merupakan “Keselamatan Absolut” dan “Kebebasan Mutlak”, karena saat itulah semua makhluk akan terbebas sepenuhnya dari lingkaran kelahiran dan kematian (samsara). Keselamatan dan Kebebasan mutlak ini hanya dapat diraih dengan merealisasi “Nibbana” yaitu; Keadaan tanpa nafsu keinginan, yang merupakan  pemadaman total dari semua kekotoran batin. Demikianlah, sehingga Keselamatan dan Kebebasan dalam Buddha Dhamma bukanlah hal sederhana sebagai pencapaian kehidupan di alam surga semata. Keselamatan dalam Buddha Dhamma merupakan terbebasnya suatu makhluk dari putaran arus kelahiran dan kematian (samsara), yang penuh dukkha, kepiluan, dan ratap-tangis. Keselamatan sedemikian ini hanya akan dicapai saat suatu makhluk, dalam hal ini seseorang manusia, merealisasi Nibbana, mencapai Pencerahan, mencapai ke-Buddha-an.

[29]Menurut Agama Hindu konsep keselamatan adalah untuk semua. Tidak ada yang menyangkal keselamatan. Bahkan jika kita tidak percaya pada Tuhan, Ateis dan Agnostik dapat mencapai keselamatan. Satu tidak perlu menjadi seorang Hindu untuk mencapai keselamatan. Semua orang akhirnya akan mencapai keselamatan apakah mereka percaya kepada Tuhan atau praktik agama apapun. Keselamatan dalam Hindu dikenal sebagai self-realisasi atau moksha. Itulah alasan mengapa setiap orang di bumi harus memberikan spiritualitas lebih penting dan kurang penting bagi dogma keagamaan. Dalam keyakinan umat Hindu, Moksha adalah suatu keadaan dimana jiwa merasa sangat tenang dan menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya. Karena tidak terikat lagi dengan hawa nafsu atau benda material. Pada saat mencapai keadaan Moksha, jiwa terlepas dari siklus reinkarnasi sehingga jiwa tidak bisa lagi menikmati suka dan duka dunia. Oleh karena itu Moksha menjadi tujuan terakhir yang ingin dicapai oleh umat Hindu.
                                                                                    
Konsep tentang hidup kerohanian berbeda-beda dari satu agama ke agama yang lain. Juga istilah “spiritualitas” dipahami dengan beranekaragam. Berikut akan disajikan penjelasan tentang ibadah dan doa dari agama-agama berikut :
[30]Ibadah pada pada hakekatnya adalah penyembahan, pemujaan dan pengabdian kepada Tuhan. Manusia beribadah kepada Tuhan di dalam dan melalui seluruh keberadaan, gerak hidup dan kegiatannya (Yos 24:15) dan itu terus menerus harus dilatih dan dibiasakan (1 Tim 4:7b). secara khusus manusia menetapkan waktu, tempat dan cara beribadah, agar dapat lebih memusatkan perhatian dalam berjumpa dengan Allah. Dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia tidak mampu lagi berhadapan muka dengan Allah, manusia merasa takut dan malu, sehingga menjauhi Allah (Kej 3:9-10). Akibatnya pertemuan manusia dengan Allah kehilangan makna yang yang asasi, dan serentak dengan itu sulit ditemukan ibadah yang benar. Untuk itulah Allah membebaskan umatNya, dan pembebasan oleh Allah itu membuahkan ibadah di antara umat Allah (Kel 3:18; 5:3; 20:5,24). Di dalam Ibadah Tuhan Allah menyapa mendatangi, melayani,dan menguduskan umatNya, sekaligus menyampaikan kehendakNya tentang hal-hal yang terjadi kini dan nanti. Serempak dengan itu, di dalam ibadah manusia menjawab suara dan perbuatan Tuhan dalam bentuk Mazmur, pujian, syukur, pengakuan, doa dan persembahan (1 Taw 29:13; Mzm 18:30, 33; 100:4; Yes 12:1-5). Dengan demikian yang menjadi pusat dan pokok perhatian di dalam ibadah adalah Allah sendiri, dan di dalam ibadah terjadi pertemuan dan dialog antara Allah dengan umatNya. Pertemuan dan dialog itu tidak dapat diikat oleh bentuk dan pola ibadah manapun, melainkan bergantung pada anugerah dan kebebasan Allah yang berkenan hadir, dan juga pada ketaatan umatNya atas apa yang dituntut dan diperintahkan Tuhan (Yer 7:1-15). Tuhan Allah dipuji dengan segala yang ada pada manusia. Dengan berbagai bentuk dan jenis kegiatan dengan berbagai peralatannya, yang adalah karunia bagi manusia, dan dengan segala daya dan upayanya, manusia mensyukuri pembebabasan dan berkat Tuhan yang melimpah itu. Ibadah bukan saja untuk kekinian, melainkan juga menjadi tanda yang khas hingga keakanan, yaitu Yerusalem baru (Why 21:26). Ibadah tidak dapat dipisahkan dari keselamatan dan pembebasan oleh Allah. Oleh sebab itu ibadah merupakan pujian dan ungkapan syukur kepada Allah (Mzm 98:111; Kol 3:15-16). Di dalam pertemuan ibadah, umat Allah berhimpun dengan tertib dan teratur, karena mereka sedang menghadap Tuhan dan karena Tuhan adalah sumber ketertiban dan keteraturan (1 Kor 14:26-40; Ef. 4:16). Ibadah ditata dan diselenggarakan berdasarkan makan ibadah yang dijelaskan di atas. Di dalam ibadah itu di satu sisi pelayan ibadah mewakili Tuhan di hadapan umatNya dan di sisi lain mewakili sekaligus bersama umat Tuhan di dhadapanNya. Oleh sebab itu ibadah adalah wujud pelayanan Tuhan kepada umatNya (Mzm 121) dan penyembahan umat kepada TuhanNya (Yoh 4:24; Why 4:10-11; Dan 6:21).
Doa tidak terpisahkan dari ibadah. Berdoa adalah kewajiban orang percaya yang harus dilakukan dengan tekun dan terus menerus (1 Tes 5:15), dengan bimbingan Roh Kudus (Ef.6:18Rm 8:15-16). Doa didtujukan kepada Allah Bapa di Sorga dan berdasarkan kesaksian Injil Matius tentang doa yang diajarkan Tuhan Yesus, berdoa merupakan tekad orang percaya untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, sebagai suatu pengakuan atas ketergantungan kita kepada Allah Bapa, dan sekaligus sebagai pujian dan permohonan kepadaNya (Mat 6:9-13). Doa sebagai permohonan atas kebutuhan kita akan dijawab Allah sesuai dengan kehendak, waktu dan caraNya. Yesus berjanji bahwa Bapa akan memberikan apa yang kita minta di dalam namaNya (Yoh 15:16). Doa di dalam nama Tuhan Yesus adalah doa yang disampaikan dengan penuh keyakinan (bnd Yak 5:13-18). Jadi doa di dalam nama Tuhan Yesus bukan formulasi magis, bukan pula ucapan yang bertele-tele, yang mengundang pujian manusia (Mat 6:7-8). Doa di dalam ibadah (kebaktian) umum, termasuk doa syafaat (doa bagi orang lain) adalah doa dari seluruh warga persekutuan jemaat; jadi bukan doa pribadi dari pemimpin doa. Rumusan berkat Tuhan pada ibadah disampaikan berdasarkan keyakinan bahwa Allah di dalam Yesus Kristus dan persekutuan Roh Kudus mencurahkan berkatNya karena kasihNya kepada kita. Berkat Allah tidak diukur oleh berhasil atau gagalnya kita, atau bahkan kaya miskinnya kita dalam kehidupan dunia ini, karena setiap orang percaya senantiasa hidup di bawah naungan berkat Allah. Berkat pada ibadah tidak berasal dari pelayan ibadah, dan juga tidak bergantung pada apa yang kita perbuat, melainkan dari Allah, sumber segala berkat (Ul 7:12-26; 11:8-32).
Persembahan adalah ungkapan syukur umat Tuhan terhadap perbuatan Allah yang membebaskan, memelihara, menuntun dan memberkati umatNya (Kej 4:3-4; 28:22; Kel 29:26; 30:16; UL 16:17; Mzm 50:14,23). Pemberian Allah tidak dapat diukur dan dinilai, karena itu kita memberi persembahan dengan sukacita sebagai ungkapan cinta kasih kita kepada Tuhan (Mrk 12:41-44; Rm 12:1,2 Kor 9:6-7; Ibr 13:15-16). Persembahan disampaikan kepada Tuhan yang kemudian memperkenankan gerejaNya menggunakan persembahan itu bagi pelaksanaan tugas panggilan dan pelayanan gereja (1 Taw 29:1-9), 1 kor 16:1-4). Persembahan disampaikan dalam berbagai bentuk dan cara, sebagai sambutan atas berkat Tuhan. Persepuluhan adalah salah satu bentuk penyampaian persembahan syukur yang dianjurkan kepada seluruh warga dan pelayan gereja. Namun pada hakikatnya seluruh warga dan pelayan gereja diajak untuk mempersembahkan seluruh hidupnya, dan yang terbaik dari yang ada padanya.
Di samping ibadah secara rutin yang dilaksanakan pada hari minggu, umat Kristen juga memiliki upacara khusus, yang biasa disebut dengan sakramen. Ada 2 macam sakramen untuk Kristen, yaitu sakramen Baptisan dan sakramen Perjamuan. Sedangkan untuk umat Katholik terdapat 7 sakramen yang pengadaannya ada yang secara khusus dan ada yang secara rutin. Sedangkan gereja Katholik ada tujuh sakramen, yaitu :
A.  Permandian, yang olehnya menurut ajaran Katolik Roma menghilangkan dosa asal,
B.  Penguatan, yang diberikan kepada anak-anak setelah berumur kira-kira 12 tahun, untuk menguatkan mereka dalam perjuangan iman yang akan datang,
C.  Ekaristi, berasal dari istilah Yunani “Eucharistia”, artinya ucapan syukur,
D.  Pengakuan, yaitu pengakuan dosa-dosa yang dilakukan setelah Permandian dan yang diampuni dengan perantaraan kuasa imam,
E.   Perminyakan, yang memberi kepada orang sakit kekuatan untuk mati secara Kristen,
F.   Imamat (keimaman, pentahbisan menjadi imam) yang olehnya diberi kekuasaan untuk melanjutkan keimaman Kristus,
G.  Perkawinan, yang menurut ajaran katolik Roma ditetapkan oleh Allah dalam taman Firdaus dan oleh Yesus diangkat menjadi sakramen.
[31]Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya dan adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi. Ibadah juga adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.
Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan. Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (Adz-Dzaariyaat: 56-58)
Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah).
Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar pokok, yaitu : hubb (cinta), khauf (takut), raja’ (harapan). Rasa cinta harus disertai dengan rasa rendah diri, sedangkan khauf harus dibarengi dengan raja’. Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini. Allah berfirman tentang sifat hamba-hamba-Nya yang mukmin:
يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ
“Dia mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” [Al-Maa-idah: 54]
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cinta-nya kepada Allah.” [Al-Baqarah: 165]
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” [Al-Anbiya’: 90]

Sebagian Salaf berkata [2], “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja, maka ia adalah zindiq [3], siapa yang beribadah kepada-Nya dengan raja’ saja, maka ia adalah murji’[4]. Dan siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan khauf, maka ia adalah haruriy [5]. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan hubb, khauf, dan raja’, maka ia adalah mukmin muwahhid.”
Ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak) sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”
Agar dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat:
1)      Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.
2)      Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Syarat yang pertama merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallaah, karena Ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan jauh dari syirik kepada-Nya. Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya taat kepada Rasul, mengikuti syari’atnya dan meninggal-kan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” [Al-Baqarah: 112]. Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah. Wahua muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Syaikhul Islam mengatakan, “Inti agama ada dua pilar yaitu kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah, dan kita tidak beribadah kecuali dengan apa yang Dia syari’atkan, tidak dengan bid’ah.” Sebagaimana Allah berfirman:
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaknya ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” [Al-Kahfi: 110]
Hal yang demikian itu merupakan manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat Laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah.Pada yang pertama, kita tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Pada yang kedua, bahwasanya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah utusan-Nya yang menyampaikan ajaran-Nya. Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta mentaati perintahnya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allah, dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kita dari hal-hal baru atau bid’ah. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan bahwa semua bid’ah itu sesat.
Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya semata. Maka, beribadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada-Nya adalah kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ
“Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” [Az-Zumar: 2]
Sesungguhnya Allah mempunyai hak dan wewenang Tasyri’ (memerintah dan melarang). Hak Tasyri’ adalah hak Allah semata. Maka, barangsiapa beribadah kepada-Nya bukan dengan cara yang diperintahkan-Nya, maka ia telah melibatkan dirinya di dalam Tasyri’.
Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama bagi kita. Maka, orang yang membuat tata cara ibadah sendiri dari dirinya, berarti ia telah menambah ajaran agama dan menuduh bahwa agama ini tidak sempurna (mempunyai kekurangan).
Dan sekiranya boleh bagi setiap orang untuk beribadah dengan tata cara dan kehendaknya sendiri, maka setiap orang menjadi memiliki caranya tersendiri dalam ibadah. Jika demikian halnya, maka yang terjadi di dalam kehidupan manusia adalah kekacauan yang tiada taranya karena perpecahan dan pertikaian akan meliputi kehidupan mereka disebabkan perbedaan kehendak dan perasaan, padahal agama Islam mengajarkan kebersamaan dan kesatuan menurut syari’at yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya.
Ibadah di dalam syari’at Islam merupakan tujuan akhir yang dicintai dan diridhai-Nya. Karenanyalah Allah menciptakan manusia, mengutus para Rasul dan menurunkan Kitab-Kitab suci-Nya. Orang yang melaksanakannya dipuji dan yang enggan melaksanakannya dicela. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” [Al-Mu’min: 60]
Ibadah di dalam Islam tidak disyari’atkan untuk mempersempit atau mempersulit manusia, dan tidak pula untuk menjatuhkan mereka di dalam kesulitan. Akan tetapi ibadah itu disyari’atkan untuk berbagai hikmah yang agung, kemashlahatan besar yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Pelaksanaan ibadah dalam Islam semua adalah mudah. Diantara keutamaan ibadah bahwasanya ibadah mensucikan jiwa dan membersihkannya, dan mengangkatnya ke derajat tertinggi menuju kesempurnaan manusiawi. Termasuk keutamaan ibadah juga bahwasanya manusia sangat membutuhkan ibadah melebihi segala-galanya, bahkan sangat darurat membutuhkannya. Karena manusia secara tabi’at adalah lemah, fakir (butuh) kepada Allah. Sebagaimana halnya jasad membutuhkan makanan dan minuman, demikian pula hati dan ruh memerlukan ibadah dan menghadap kepada Allah. Bahkan kebutuhan ruh manusia kepada ibadah itu lebih besar daripada kebutuhan jasadnya kepada makanan dan minuman, karena sesungguhnya esensi dan subtansi hamba itu adalah hati dan ruhnya, keduanya tidak akan baik kecuali dengan menghadap (bertawajjuh) kepada Allah dengan beribadah. Maka jiwa tidak akan pernah merasakan kedamaian dan ketenteraman kecuali dengan dzikir dan beribadah kepada Allah. Sekalipun seseorang merasakan kelezatan atau kebahagiaan selain dari Allah, maka kelezatan dan kebahagiaan tersebut adalah semu, tidak akan lama, bahkan apa yang ia rasakan itu sama sekali tidak ada kelezatan dan kebahagiaannya.
Adapun bahagia karena Allah dan perasaan takut kepada-Nya, maka itulah kebahagiaan yang tidak akan terhenti dan tidak hilang, dan itulah kesempurnaan dan keindahan serta kebahagiaan yang hakiki. Maka, barangsiapa yang menghendaki kebahagiaan abadi hendaklah ia menekuni ibadah kepada Allah semata. Maka dari itu, hanya orang-orang ahli ibadah sejatilah yang merupakan manusia paling bahagia dan paling lapang dadanya. Tidak ada yang dapat menenteramkan dan mendamaikan serta menjadikan seseorang merasakan kenikmatan hakiki yang ia lakukan kecuali ibadah kepada Allah semata. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak ada kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan dan kebaikan hati melainkan bila ia meyakini Allah sebagai Rabb, Pencipta Yang Maha Esa dan ia beribadah hanya kepada Allah saja, sebagai puncak tujuannya dan yang paling dicintainya daripada yang lain.
Termasuk keutamaan ibadah bahwasanya ibadah dapat meringankan seseorang untuk melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan kemunkaran. Ibadah dapat menghibur seseorang ketika dilanda musibah dan meringankan beban penderitaan saat susah dan mengalami rasa sakit, semua itu ia terima dengan lapang dada dan jiwa yang tenang.
Termasuk keutamaannya juga, bahwasanya seorang hamba dengan ibadahnya kepada Rabb-nya dapat membebaskan dirinya dari belenggu penghambaan kepada makhluk, ketergantungan, harap dan rasa cemas kepada mereka. Maka dari itu, ia merasa percaya diri dan berjiwa besar karena ia berharap dan takut hanya kepada Allah saja. Keutamaan ibadah yang paling besar bahwasanya ibadah merupakan sebab utama untuk meraih keridhaan Allah l, masuk Surga dan selamat dari siksa Neraka. Agama Islam mewajibkan umatnya untuk melaksanakan sholat 5 waktu dan pada waktu-waktu tertentu, yakni sebagi berikut :
-    Fajr : Dimulai kira-kira empat puluh lima menit sebelum matahari terbitdan merentang hingga terbitnya matahari.
-    Zuhur : Dimulai setelah matahari melewati titik tengah di angkasa dan baru memulai turun searah busur
-    Ashar : Dimulai ketika matahari telah melintas membagi dua busur yangdibuat oleh matahari, titik tengah antara bulan dan garis horison; atauketika bayangan tubuh sama dengan panjang dua tubuh.
-    Maghrib: Dimulai persis setelah matahari tenggelam di bawah horison dantidak ada sinar yang memantul dari awan (yakni, tidak ada lagi awankemerah-merahan).
-    Isya : Dimulai ketika malam sudah turun sepenuhnya, kira-kira satu jamdua puluh menit setelah waktu maghrib, atau matahari tenggelam.
     [32]Peribadahan agama Buddha biasanya disebut dengan “Puja Bakti”. Berasal dari dua kata, yaitu “Puja” yang artinya hormat dan “bakti” yang lebih diartikan sebagai melaksanakan ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Dalam melakukan Puja Bakti umat Buddha melaksanakan tradisi sejak zaman Sang Buddha masih hidup, yaitu umat datang, masuk ke ruang penghormatan dengan tenang, melakukan namakara atau bersujud yang bertujuan untuk menghormati lambang Sang Buddha, jadi bukan menyembah patung atau berhala. Kebiasaan sujud ini dilakukan karena Sang Buddha berasal dari India. Sujud, dilakukan dengan menempelkan dahi ke lantai sebagai tanda menghormati mereka yang layak dihormati dan menunjukkan upaya untuk mengurangi keakuan diri. Setelah memasuki ruangan dan bersujud, umat Buddha dapat duduk bersila di tempat yang telah disediakan. Umat kemudian secara sendiri atau bersama-sama membaca Paritta yaitu mengulang khotbah Sang Buddha. Diharapkan dengan pengulangan khotbah Sang Buddha, uamt mempunya kesempatan merenungkan isi uraian Dhamma Sang Buddha serta berusaha melaksanakannya dalam kehidupan. Jadi makna sesungguhnya dari Puja Bakti yaitu menghormati dan melaksanakan ajaran Sang Buddha.
[33]Dalam agama Hindu terdapat beberapa ritual, seperti :
-   Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa (Bhakti Yoga)
        Penyerahan diri kepada Tuhan, selalu ingat/sadar kepada Tuhan, tekun sepenuhnya dengan keyakinan dan cinta bhakti (cinta bhakti misalnya dengan hubungan Tuhan sebagai Ayah Alam Semesta), dan menyadari hanya Alam Rohani Tuhan Yang Abadi/kekal dan sebagai tujuan tertinggi (Bhagavad-gita 2.49; Bhagavad-gita 8.8; Bhagavad-gita 8.22; Bhagavad-gita 9.22; Bhagavad-gita 10.10; Bhagavad-gita 9.34).
-   Pengorbanan, Yadnya (Karma Yoga)
Pengorbanan tidak semata-mata kedermawanan dan kewajiban tanpa pamrih, tetapi juga pelayanan sosial, melaksanakan pekerjaan sendiri (yang baik) dengan sebaik-baiknya, pertapaan (Upawasa/puasa), mengorbankan sifat-sifat buruk kita (mengorbankan sifat-sifat hewani), pengendalian diri dengan tidak mendengarkan, tidak memikirkan, melihat, tidak berkata hal-hal buruk, menjaga lingkungan dan alam, tidak menyakiti mahluk lain juga merupakan korban suci (Yadnya) kepada Tuhan.
-   Pengetahuan, Kebijaksanaan (Jnana Yoga)
        Akal budi yang berkemampuan membeda-bedakan (Wiweka), akal budi harus dipergunakan untuk membedakan yang terbatas dengan yang tak terbatas, yang asli dan yang palsu, yang sementara dengan yang kekal.

-   Meditasi (Raja Yoga)
        Meditasi pada dasarnya mengkondisikan pikiran menjadi rileks sehingga mencapai atau mendekati frekuensi alam semesta tetapi harus dalam keadaan “jaga” yaitu duduk dengan badan tegak. Dari penelitian jumlah energi yang diperlukan saat duduk meditasi lebih kecil daripada dalam keadaan berbaring atau tidur. Pada praktek Meditasi Transendental saat meditasi pada saat tertentu dicapai nafas yang halus bahkan hampir tanpa nafas yang berarti saat itu kita mengakses energi kosmis (alam semesta/Unity Field) sehingga tubuh dan mental kita mendapat energi positif, memperoleh kesehatan fisik dan mental, mengikis stres saraf (dosa), meningkatkan kreatifitas dan kecerdasan/akal budi, menumbuhkan kesabaran,  dan lain-lain. Praktek meditasi yang lain memusatkan kosentrasi kepada sang diri sejati (cahaya Atma) atau cahaya Tuhan Brahman.
        Keempat Jalan mencapai kepada Yang Maha Kuasa (Yoga) tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya dan tidak bisa dipisahkan, misalnya seorang praktisi Meditasi  kepada Cahaya Tuhan pada saat yang sama juga sedang melakukan praktek Bhakti  kepada Tuhan. Atau ketenangan fisik dan mental karena meditasi membantu pelaksanaan yoga-yoga yang lain. Seorang yang berBhakti kepada Tuhan mesti juga menolong dan hormat dengan sesama manusia  dan mahluk hidup lainnya, serta peduli dengan lingkungan tanpa pamrih (Karma).

Dari pengalaman kita sendiri sebagai umat percaya, menggambarkan doa adalah sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan Allah. Menurut rasul Paulus, Roh Kuduslah yang memberikan kita kemampuan untuk berdoa, ketika kita tidak mampu menemukan kata-kata, dan Roh Kuduslah yang “berdoa” untuk kita kepada Allah dengan keluhan yang tak terucapkan (Roma 8:26). Meditasi atau yoga juga adalah bentuk dari berdoa. Doa juga membutuhkan kedisiplinan. Orang Hindu yang taat berdoa tiga kali sehari, atau paling sedikit pada waktu fajar dan malam hari. Orang-orang Islam mengingat Allah melalui doa lima kali sehari. Kita sebagai pengikut Kristus walaupun kita hanya beribadah pada hari Minggu, namun sebenarnya dalam artian yang sesungguhnya bukan demikian. Kita beribadah kepada Tuhan setiap hari melalui doa-doa dan pujian kita. Karena kita meyakini bahwa Tuhan Yesus tidak hanya terdapat dalam gedung gereja saja, namun juga ada dalam hati kita. Karena tubuh kita juga adalah bait suci Allah.


Gereja bukan sekedar organisasi saja, namun Gereja merupakan kumpulan anggota gereja yang menyadari bahwa mereka memiliki sesuatu yang lazim diantara mereka yakni hidup bersekutu mempelajari firman Tuhan. Di dalam Gereja kalau ada salah satu anggotanya mulai kendur semangatnya, kita akan usahakan supaya dia kembali.
“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Efesus 2:19).
Kesatuan dan kebersamaan orang-orang percaya di dalam Kristus disebut persekutuan. Kata yang dipakai untuk persekutuan dalam bahasa Yunani adalah Koinonia yang berasal dari kata dasar “koinos” yang berarti “lazim atau umum”. Adapun kata lain yang dihubungkan dengan koinonia, yakni “koinonos” yang berarti “sekutu atau kawan sekerja”. Kata lainnya yang seringkali dikaitkan dengan koinonia adalah “allelous” berarti “satu terhadap yang lain”. Kata ini dipakai dengan pengertian hubungan yang timbal balik. Yesus berkata “Aku memberikan perintah baru kepada kamu yaitu, supaya kamu saling mengasihi sama seperti aku telah mengasihi kamu, demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:34-35). Hal-hal yang harus kita miliki untuk menjalin persekutuan yang baik adalah :
·      Harus saling mengasihi
Kebenaran ini ditemukan di dalam perintah baru yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus dalam Yohanes 13. Hal saling mengasihi tidak hanya terdapat dari injil dan surat-surat Yohanes (13:34-35; 15:12, 17, 1 Yohanes 3:11,23; 4,7 11-12 dan Yoh 5) melalinkan dalm surat-surat Paulus juga Janganlah berhutang apapun kepada siapa juga, kecuali berhutang kasih terhadap satu sama lain, sebab orang yang mengasihi sesama manusia sudah memenuhi semua hukum Musa (Roma 13:8 ; 1 Tes 3:12 dan 4:9). Mengasihi bukan hanya sekadar simpati saja ataupun dalam perkataan saja. Kasih itu dinyatakan dalam perkataan dan perbuatan. Semua ini dapat dilakukan dengan cara praktis seperti pemberian uang ataupun makanan kepada saudara-saudara seiman yang membutuhkan. Saling mengasihi merupakan suatu tanda bahwa orang-orang Kristen adalah benar-benar pengikut Kristus. Kita tidak mungkin bersekutu tanpa adanya kasih.
·      Harus saling melayani
Tuhan Yesus adalah teladan kita dalam pelayanan. Dia memperlihatkan keteladanan seorang hamba dengan menanggalkan jubahnya, dan berpakaian seperti seorang hamba membasuh kaki murid-murid-Nya. “Aku telah meberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15). Pelayanan adalah akibat dari kasih, sehingga ada orang mengatakan kamu bisa melayani tanpa kasih, tetapi engkau tidak mengasihi tanpa melayani Paulus sendiri pernah mengatakan “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” (lihat Galatia 5 :13).

·      Harus saling membantu menanggung beban
(Galatia 6:2) “Betolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Setiap orang percaya yang hidup dalam persekutuan mestinya memiliki karakter-karakter dasar Kristiani yakni rendah hati, lemah lembut, sabar dan mengasihi. Dengan adanya karakter dasar itulah memungkinkan kita untuk turut meraskan kesulitan orang lioan, bukan hanya itu kita juga akan membantu mereka.
·      Harus saling mengampuni
Mengampuni dan melupakan, dua hal yang berbeda, orang yang melupakan saja belum tentu mengampuni, tetapi yang paling penting adalah walaupun kita tidak melupakannya tetapi ada pengampunan. Tuntutannya dalam satu tubuh Kristus yang hidup dalam persekutuan adalah saling mengampuni. Bagaimana kita bisa bersekutu dengan tenang, kalau di depan kita masih ada musuh. Demikian juga kita yang merupakan anggota tubuh Kristus, semakin kita saling menyakiti maka semakin sakit, itu sebabnya Paulus mengingatkan kita, Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (lihat Efesus 4:31-32, Kolose 3:12-13 dan kembali ke Efesus 4:1-3)
·      Harus saling mengaku dosa dan saling mendoakan
Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Dan orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16).
·      Harus saling menasihati
Menasihati sesama sangat perlu unutk memperbaiki kesalahan mereka agar tidak melakukannya lagi. Demikain juga kalau ada salah satu anggota tubuh kita bersalah (sakit), perlu diobati = dinasehati.
·      Harus saling menghiburkan
Tesalonika 4: 18 Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain Orang-orang di Tesalonika pada waktu itu kebingungan tentang kedatangan Kristus sehubungan dengan kematian beberapa orang dari antara mereka. Tetapi Paulus menjelaskan bahwa kedatangan Yesus tidak hanya menyangkut orang-orang yang masih hidup melainkan orang-orang mati juga. Marilah kita saling menghibur, karena dengan saling menghibur kita bisa menunjukkan sikap kasih kita dan terutama persekutuan kita terhadap sesama.
Persekutuan adalah suatu hal yang amat asasi bagi iman Kristen. Persekutuan orang-orang percaya berawal pada pemahaman kita sebagai Allah Tritunggal. Kita melihat gereja sebagai persekutuan tubuh Kristus. Persekutuan kita digambarkan oleh Yesus seperti di dalam 1 Korintus 12:12-30 dan 1 Petrus 2. Ayat-ayat di atas membawa kita melampaui diri kita kepada persekutuan yang lebih luas lagi yang merupakan tujuan penciptaan Allah. Pada akhirnya bentuk-bentuk persekutuan seperti di atas harus kita terapkan dalam kehidupan kita hari lepas hari. Namun kita juga harus bergaul atau mewujudkan semua bentuk persekutuan di atas kepada orang-orang yang tidak seiman dengan kita. Serta tetap harus mengutamakan kawan-kawan kita seiman.

Dalam kehidupan keagamaan di Indonesia yang pluralistik, kita sebagai umat percaya dituntut untuk tetap mengikrarkan iman kita kepada Tuhan dengan penuh ketaatan. Bagaimana pun tantangan dan kondisi yang dihadapi kita harus tetap berpegang teguh pada Kristus satu-satunya Tuhan dan Juruselamat. Kita mengenal adanya trinitas, yaitu satu komunitas berbeda yang berada dalam hubungan. Itulah yang menjadikan dasar kepada kita untuk memaklumi adanya perbedaan antar umat beragama. Namun seperti trinitas di atas, dalam segala keperbedaan itu kita tetap saling terhubung. Terhubung oleh karena kita tetap ingin menjalin hubungan baik antar agama. Sikap yang harus kita ambil untuk menjalani kehidupan keagamaan yang pluralistik zaman ini adalah sikap yang penuh dengan toleransi. Karena dengan adanya sikap seperti itu, niscaya kehidupan yang aman dan kerukunan, damai sejahtera serta penuh sukacita akan tercapai. Sekaligus mewujudkan cita-cita Tuhan Yesus. Toleransi antar umat beragama dapat juga diwujudkan dengan cara kita mau untuk lebih mengenal agama-agama lain yang ada di sekitar kita. Bukan malah kita bersikap eksklusif tanpa mempedulikan lingkungan sekitar. Dengan mengenal agama-agama lain kita dapat menambah iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Adanya keragaman agama bukan suatu keburukan yang harus dihilangkan, tetapi suatu kekayaan yang harus diterima dan dinikmati oleh semua. 


Semoga bermanfaat !! Ada yang perlu ditanya lebih lanjut silahkan add commentnya ya
Gbu

No comments:

Post a Comment