TEOLOGI RELIGIONUM

DAFTAR ISI

Nama : Novia
Christabella (1314073)
Hari/Tanggal : Jum’at/23 Januari 2015
Mata
Kuliah : Pendidikan
Agama Kristen
Kelas
: A
PENDAHULUAN
Indonesia
sekarang sedang mengalami masa kemajuan teknologi yang sangat pesat. Dampak
dari kemajuan teknologi tersebut pasti akan memuculkan masalah-masalah baru.
Masalah yang terjadi bisa saja dari masalah ekonomi, politik, sosial dan
budaya, juga masalah agama yang kian hari kian ramai diperbincangkan. Masalah
agama dalam kemajuan teknologi justru semakin pelik. Karena semua orang dengan
mudah mendapatkan informasi yang bisa saja memicu perselisihan antar umat
beragama dari manfaat kemajuan teknologi. Sejatinya agama adalah kepercayaan
yang dimiliki oleh setiap orang secara bebas sesuai dengan hati nurani mereka.
Tantangan untuk agama-agama saat ini bukan hanya bagaimana seseorang harus
menjalankan perintah agama yang mereka anut saja, namun lebih daripada itu
tantangan bagi mereka adalah bagaimana mereka menyikapi hubungan mereka dengan
kemajemukan agama serta pengaruhnya yang semakin besar terhadap kehidupan kita.
Dalam
paper ini saya akan menjelaskan secara rinci tentang kepercayaan-kepercayaan
lain yang diakui oleh Indonesia, yaitu Kristen, Katolik, Islam, Buddha, dan
Hindu sebagai agama-agama yang sah. Tentunya saya akan melihatnya semuanya
melalui kacamata agama Kristen yang saya percayai. Dengan judul “Teologi
Religionum”, dimaksudkan agar makalah ini juga bukan hanya untuk menjelaskan
tentang kepercayaan lain, namun untuk membangkitkan kesadaran bahwa selama ini
kita hidup dengan sesama kita yang juga memiliki iman kepercayaan dan
prakteknya yang sangat berbeda dengan ajaran dalam kepercayaan kita dan mau
tidak mau kita terima sebagai bagian dari masyarakat. Karena sejujurnya tanpa
kita sadari selama ini ada jurang pemisah antara kita dengan sesama kita yang
berbeda keyakinan. Sehingga cita-cita yang Tuhan inginkan untuk kita mengasihi
sesama manusia malah kita sendiri yang menghambatnya. Dan setelah membaca paper
ini diharapkan kita akan memandang sesama kita yang berbeda keyakinan dalam
cara berpikir yang baru, serta berusaha untuk menjalin persekutuan yang lebih
akrab bukan malah semakin menjauhkan diri atau mengisolasi diri kita dari
sesama kita. Serta untuk semakin menguatkan iman kita kepada Tuhan Yesus
Kristus. Selamat membaca. Tuhan Yesus Memberkati.
[1]Pada
abad ke-19 teori evolusi cepat menyebar di kalangan cendekiawan, dan sejalan
dengan munculnya penelitian ilmiah, menyebabkan banyak orang mempertanyakan
sistem-sistem yang sudah ada, termasuk agama. Menyadari terbatasnya petunjuk
yang mereka dapatkan dari agama yang ada, beberapa pakar beralih ke
peninggalan-peninggalan peradaban masa awal atau ke ujung-ujung dunia, tempat
orang-orang masih hidup dalam masyarakat primitif. Mereka mencoba menerapkan
metode-metode psikologi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya, dengan harapan
mendapatkan petunjuk tentang bagaimana dan mengapa ada agama. Hasilnya muncul
banyak teori tentang agama, yakni :
-
Sebuah teori, yang umumnya disebut teori
animisme, dikemukakan oleh seorang antropolog asal Inggris, Edward Tylor
(1832-1917). Ia mengemukakan bahwa pengalaman seperti mimpi, penglihatan,
halusinasi, ditambah dengan fakta bahwa mayat tidak bernyawa lagi menyebabkan
orang-orang primitif menyimpulkan bahwa tubuh dihuni oleh suatu jiwa (Latin,
anima). Menurut teori ini, karena orang sering bermimpi tentang orang-orang
tercinta yang sudah meninggal, mereka menyimpulkan bahwa jiwa tetap hidup
setelah kematian, bahwa jiwa meninggalkan tubuh dan mendiami pohon, batu
karang, sungai, dan sebagainya. Akhirnya, orang mati dan benda-benda yang konon
dihuni oleh jiwa disembah sebagai dewa-dewi. Maka, kata Tylor, lahirlah agama.
-
Seorang antropolog lain asal Inggris, R.
R. Marett (1866-1943), mengajukan perbaikan atas teori animisme, yang ia sebut
teori animatisme. Setelah meneliti berbagai kepercayaan orang Melanesia di
Kepulauan Pasifik serta penduduk asli Afrika dan Amerika, Marett menyimpulkan
bahwa orang-orang primitif tidak menganggap jiwa itu suatu pribadi, tetapi
bahwa ada suatu kekuatan abstrak atau tenaga gaib yang menghidupkan segala
sesuatu; kepercayaan itu membangkitkan perasaan hormat dan takut dalam diri
manusia, yang menjadi dasar untuk agama primitif mereka. Menurut Marett, agama
pada dasarnya merupakan tanggapan emosional manusia terhadap apa yang tidak
diketahui. Pernyataannya yang terkenal ialah bahwa agama ”sebenarnya bukan
hasil pemikiran melainkan luapan batin”.
-
Pada tahun 1890, pakar cerita rakyat
kuno asal Skotlandia, James Frazer (1854-1941), menerbitkan buku yang
berpengaruh, The Golden Bough. Di dalam buku itu, ia mengemukakan bahwa agama
berasal dari ilmu gaib. Menurut Frazer, manusia mula-mula mencoba mengendalikan
kehidupannya sendiri dan lingkungannya dengan meniru apa yang ia lihat terjadi
di alam. Sebagai contoh, orang berpikir bahwa ia dapat mendatangkan hujan
dengan memercikkan air ke tanah diiringi pukulan gendang yang seperti bunyi
guntur atau bahwa ia dapat melukai musuhnya dengan menusuk-nusukkan jarum ke
orang-orangan. Hasilnya, mereka mulai menggunakan upacara keagamaan, mantra,
dan benda-benda bertuah dalam banyak segi kehidupan. Jika hal ini tidak manjur,
ia kemudian akan menenangkan tenaga-tenaga gaib serta meminta bantuan mereka,
ketimbang mencoba mengendalikan mereka. Dari upacara keagamaan serta pelantunan
mantra berkembanglah korban-korban dan doa-doa, sehingga lahirlah agama.
Mengutip kata-kata Frazer, agama adalah ”tindakan berdamai atau rujuk dengan
kuasa-kuasa yang lebih tinggi daripada manusia”.
Ada
banyak teori lain yang mencoba menjelaskan asal usul agama. Namun, kebanyakan
sudah dilupakan, dan tak satu pun benar-benar kelihatan lebih dapat dipercaya
atau berterima daripada yang lainnya. Mengapa? Karena tidak pernah ada bukti
sejarah bahwa teori-teori ini benar. Teori-teori ini murni hasil imajinasi atau
karangan para peneliti, yang tak lama kemudian diganti dengan teori baru
berikutnya.
Setelah
bertahun-tahun bergumul dengan persoalan ini, sekarang banyak orang
berkesimpulan bahwa tampaknya mustahil akan ada terobosan untuk menemukan
jawaban atas pertanyaan tentang asal usul agama. Pertama-tama, alasannya adalah
tulang-tulang dan peninggalan bangsa-bangsa kuno tidak memberi tahu kita tentang
cara berpikir orang-orang tersebut, apa yang mereka takuti, atau mengapa mereka
menyembah sesuatu. Tidak seorang pun mengetahui dengan pasti apakah atau
bagaimana caranya kebudayaan mereka berubah dari abad ke abad. Secara masuk
akal, kesamaan konsep dasar banyak agama dunia merupakan bukti yang kuat bahwa
agama-agama tidak bermula sendiri-sendiri. Sebaliknya, apabila kita
menelusurinya cukup jauh ke masa lampau, gagasan-gagasannya pasti berasal dari
sumber yang sama.
[2]Ada
beberapa definisi tentang agama. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikannya
sebagai “Ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan
peribadatan kepada Tuhan yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan
dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya, Islam; Kristen;
Katolik; Buddha; Hindu”. Dari sini, kita melihat adanya dimensi iman, ibadah,
dan moralitas di dalamnya. Dari definisi ini, maka kita melihat bahwa agama
mengajarkan satu perangkat kepercayaan atau iman dan bagaimana mewujudkan iman
atau kepercayaan ini, baik dengan doa, ritual atau liturgi yang mengatur
bagaimana untuk menyembah Tuhan yang dipercayai, maupun dengan satu pengajaran
moral yang mengatur bagaimana untuk hidup dengan baik sesuai dengan apa yang
dipercayai.
Memiliki
asal usul yang sama yaitu dari Bangsa Semit. “Bangsa Semit berasal dari Jazirah
Arab”. Kata Arab pertama kali muncul
pada abad ke-9 sebelum masehi. Bangsa Arab tidak selalu terdiri orang-orang
Islam, tapi juga orang Kristen dan Yahudi. Beberapa buktinya adalah adanya
perabadan Nabath yang didirikan oleh bangsa Arab beragama Kristen. Ketiga Agama
barat itu Kristen, Yahudi, dan Islam memiliki latar belakang yang sama, dapat
dibuktikan dari adanya Kitab Agama Islam, Kitab Agama Kristen ( Perjanjian
lama), ditulis dalam rumpunan yang sama
yaitu bahasa Semit. salah satu dari perjanjian lama kata “Tuhan” mempunyai arti yang sama dengan kata “Allah”
yang dipakai oleh kaum Muslim (kata “Allah” berarti sederhana yaitu Tuhan).
Bangsa Indo - Eropa percaya pada banyak Dewa di masa itu. Sementara Bangsa
Semit juga menjadikan ciri khas Bangsa Semit sejak zaman dulu kala mereka telah
disatukan dengan kepercayaan satu Tuhan (Monoteisme).
Agama Yahudi, Islam, dan Kristen mempunyai
gagasan dasar yang sama yaitu percaya kepada satu Tuhan. Bangsa Semit memiliki
pandangan yang Linier terhadap sejarah seperti sebuah garis lurus dimana
terciptanya Dunia adalah awal dari kehidupan (terciptanya manusia) dan kiamat
sebagai akhir. Di Zaman sekarang kota jerusalem
merupakan kota yang penting bagi ketiga agama tersebut. ini juga merupakan
cukup bukti bahwa ketiga agama tersebut berasal dari satu asal. Di kota
tersebut terdapat berbagai Sinagog (Yahudi),
Gereja (Kristen), Mesjid (Islam) terkemuka.
[4]Agama
Hindu (Bahasa Sanskerta: Sanātana Dharma सनातन
धर्म
"Kebenaran Abadi”, dalam bahasa Persia kata Hindu berakar dari kata Sindhu),
dan Vaidika Dharma (Pengetahuan Kebenaran) adalah sebuah agama yang berasal
dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda
(Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini
diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama
tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Agama ini merupakan agama
ketiga terbesar di dunia setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak
hampir 1 miliar jiwa. Penganut agama Hindu sebagian besar terdapat di anak
benua India. Di sini terdapat sekitar 90% penganut agama ini. Agama ini pernah
tersebar di Asia Tenggara sampai kira-kira abad ke-15, lebih tepatnya pada masa
keruntuhan Majapahit. Mulai saat itu agama ini digantikan oleh agama Islam dan
juga Kristen. Pada masa sekarang, mayoritas pemeluk agama Hindu di Indonesia
adalah masyarakat Bali, selain itu juga yang tersebar di pulau Jawa,Lombok,
Kalimantan (Suku Dayak Kaharingan), Sulawesi (Toraja dan Bugis - Sidrap).
[5]Agama
Buddha lahir di negara India, lebih tepatnya lagi di wilayah Nepal sekarang,
sebagai reaksi terhadap agama Brahmanisme. Sejarah agama Buddha mulai dari abad
ke-6 SM sampai sekarang dari lahirnya Siddharta Gautama. Agama itu diperoleh
namanya dari panggilan yang diberikan kepada pembangunnya yang mula-mula
Siddharta Gautama (563-483 BC), yang dipanggilkan dengan : Buddha. Panggilan
itu berasal dari akar kata Bodhi (hikmat), yang di dalam deklensi (tashrif)
selanjutnya menjadi buddhi (nurani), dan selanjutnya menjadi Buddha. Sebab
itulah sebutan Buddha pada masa selanjutnya memperoleh berbagai pengertian
sebagai berikut: Yang sadar, Yang Cemerlang, dan yang beroleh terang. Panggilan
itu diperoleh Siddharta Gautama sesudah menjalani sikap hidup penuh kesucian, bertapa,
berkalwat mengembara untuk menemukan kebenaran, dekat tujuh tahun lamanya, dan
di bawah sebuah pohon, iapun beroleh hikmat dan terang hingga pohon itu sampai
saat ini dipanggilkan pohon Hikmat (Tree of Bodhi). Buddha adalah salah satu
agama tertua yang masih dianut di dunia. Agama Buddha berkembang dengan unsur
kebudayaan India, ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Helenistik (Yunani),
Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara. Dalam proses perkembangannya, agama
ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia dan telah menjadi agama
mayoritas di beberapa negara Asia seperti Thailand, Singapura, Kamboja,
Myanmar, Taiwan, dsb. Pencetusnya ialah Siddhartha Gautama yang dikenal sebagai
Gautama Buddha oleh pengikut-pengikutnya. Ajaran Buddha sampai ke negara
Tiongkok pada tahun 399 Masehi, dibawa oleh seorang bhikku bernama Fa Hsien.
Masyarakat Tiongkok mendapat pengaruhnya dari Tibet disesuaikan dengan tuntutan
dan nilai lokal. Setiap aliran Buddha berpegang kepada Tripitaka sebagai
rujukan utama karena dalamnya tercatat sabda dan ajaran sang hyang Buddha
Gautama. Pengikut-pengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikasikan
ajarannya dalam 3 buku yaitu Sutta Piṭaka (kotbah-kotbah Sang Buddha), Vinaya
Piṭaka (peraturan atau tata tertib para bhikkhu) dan Abhidhamma Piṭaka (ajaran hukum
metafisika dan psikologi)
[6]Banyak
sekali orang Kristen yang selama ini hidup dalam masyarakat yang beragam agama.
Sekarang ini ketika makin banyak masyarakat dan bangsa menjadi majemuk dalam
hidup keagamaannya, kita sebagai orang percaya perlu dengan sesama di dalam
terang iman memberi respon terhadap kenyataan tersebut, yaitu banyak dari
sesama kita menjalankan kehidupan dengan iman kepercayaan yang lain. Beberapa
dari kita justru tidak mempedulikan hal tersebut. Atau bahkan dengan
kemajemukan tersebut malah membuat mereka memutuskan untuk pindah ke tempat
lain dimana mereka tidak perlu lagi mengalami situasi tersebut. [7]Keragaman
agama bukan suatu keburukan yang harus dihilangkan, tetapi suatu kekayaan yang
harus diterima dan dinikmati oleh semua. Di dalam semua agama terdapat lebih
banyak kebenaran agamis daripada dalam satu agama. Ini juga terdapat dalam
Kristiani.
Agama-agama di
dunia ini harus bersekutu, bukan untuk membentuk suatu agama tunggal tetapi
suatu komunitas dialogis dari antara berbagai komunitas. Citra agama masa depan
bagi umat manusia bukan hanya diperlihatkan dalam foto-foto kegiatan gereja,
pura, masjid ataupun vihara, tetapi diharapkan terciptanya dialog-dialog antar
agama. Jadi adanya satu gerakan, bukan menuju kesatuan absolut atau monoistik
tetapi menuju apa yang bisa disebut “pluralisme yang menyatukan”: Pluralitas
yang membentuk persatuan. Karena sesungguhnya kebenaran dapat terungkap melalui
dialog. Kebenaran yang kita lihat dari sudut pandang kultural-religius kita
bukan hanya terbatas tetapi juga sangat berbahaya. Kalau kita tidak sadar bahwa
kebenaran yang kita miliki terbatas, kita akan menganggapnya sebagai
satu-satunya kebenaran, atau kebenaran yang paling unggul bukan hanya untuk
kita sendiri tetapi juga untuk semua orang. Sebuah ilustrasi singkat yang dapat
menggambarkan pandangan yang baik tentang kebenaran tersebut. Kita adalah
seorang warga desa yang akan menjadi bagian dari desa global. Akar identitas
kita selalu bersifat lokal dan akan terus-menerus demikian. Kita membawa
warisan desa kita, saat kita mengunjungi desa-desa lain dan belajar dari
mereka, kita akan menghargai baik nilai maupun keterbatasan dari apa yang
diwariskan desa kita sendiri. Dari dua ancaman besar komunitas adalah
nasionalisme dan fanatisme yang berkembang diantara mereka yang belum pernah
keluar dari desanya sendiri, dan menganggap desa mereka adalah yang paling
superior. Ini juga yang dianut oleh banyak komunitas beragama. Mereka yang
memiliki teologi yang berbeda dengan yang lain menganggap perbedaan merupakan
suatu ancaman. Sehingga banyak yang menyikapinya dengan cara menciptakan
semacam isolasi kultural.
Penciptaan
adalah sebuah tema pokok yang ada di dalam Alkitab. Alkitab bahkan memulai
ceriteranya dengan penciptaan. Namun demikian penciptaan juga menjadi tema
pokok bagi sebagian kepercayaan lain, seperti berikut :
6 Hari Penciptaan
Hari Pertama : Langit dan bumi diciptakan dan
“Jadilah terang”
Hari Kedua : Allah menciptakan cakrawala
Hari Ketiga : Daratan dipisahkan dengan lautan;
tumbuh-tumbuhan diciptakan
Hari Keempat : Benda-benda langit diciptakan
Hari Kelima : Binatang di laut dan burung-burung
di udara
Hari
Keenam : Binatang di bumi, ternak,
dan binatang melata. Lalu manusia diciptakan (Adam dan Hawa)
Tuturan
Kejadian 1 dapat disajikan dalam tiga tahap terpisah. Pada tiga hari pertama
dijadikan panggung, pada tiga hari kedua dijadikan para pelaku yang bertindak
di atasnya. Ada tiga macam pemisahan dan ada tiga macam penguasa, sebagai
berikut :Pada hari pertama, Allah memisahkan terang dari gelap (Kejadian 1:4).
Ini sejajar dengan hari keempat pada hari mana Allah menjadikan penerang -
matahari dan bulan - untuk menguasai siang dan malam (Kejadian 1: 16-18).
1) Pada
hari kedua, Allah memisahkan air yang ada di bawah cakrawala dari air yang ada
di atasnya (Kejadian 1:7). Ini sejajar dengan hari kelima pada hari mana Allah
menjadikan burung yang terbang melintasi cakrawala, serta binatang-binatang
laut dan makhluk lainnya yang berkeriapan dalam air (Kejadian 1:20-21).
2) Pada
hari ketiga, Allah memisahkan darat yang kering dari air, lalu menjadikan tumbuh-tumbuhan
(Kejadian 1:9-12). Ini sejajar dengan hari keenam pada hari mana Allah
menjadikan binatang ternak dan binatang liar di muka bumi, serta manusia -
laki-laki dan perempuan - untuk menguasaI semua makhluk lain yang hidup
(Kejadian 1:24-27).
Kejadian
1 menyatakan keteraturan dan penggolongan. Tumbuh-tumbuhan dan
binatang-binatang digolongkan menurut jenisnya (ayat 11, 21, 24, 25). Prinsip
kesuburan berkembang biak kelihatan dalam ay 11-12, tumbuhan-tumbuhan berbiji
dan segala jenis pohon menghasilkan buah yang berbiji juga. Dalam ayat 22
segala binatang berkembang biak karena berkat Allah. Kejadian 1 juga menyatakan
tujuan diciptakannya beberapa hal, yaitu matahari dan bulan untuk menguasai
(Kejadian 1:18), manusia untuk berkuasa atas semua ciptaan lainnya (Kejadian
1:26). Jelas Kejadian 1 menitikberatkan ketransendenan Sang Khalik. dan
implikasinya bahwa keteraturan alami dunia adalah keteraturan yang tergantung
pada Allah dan berasal dari Allah, tapi tidak mutlak harus teratur dengan corak
yang sama. Pandangan ini tidak bertentangan dengan sains, bahkan mendukungnya. [9]Dengan
demikian, penciptaan adalah karya dari Tritunggal Maha Kudus, yang dilakukan
secara bebas tanpa paksaan dan di dalam kebijaksaan-Nya, Tuhan memandang baik.
Kalau Tuhan adalah kasih dan kebaikan itu sendiri, maka menjadi kodrat dari
kebaikan dan kasih untuk semakin dibagikan. Kebaikan Tuhan dinyatakan dengan
menciptakan makhluk, baik yang paling rendah sampai yang paling tinggi, yaitu
dari benda ciptaan, makhluk hidup yang tidak berakal budi seperti tumbuhan dan
binatang, makhuk hidup yang berakal budi seperti manusia sampai malaikat.
[10]Ajaran
Buddha sangat mengutamakan etika dan moralitas. Tanpa perlu diperintah, umat
Buddhis sejati mengembangkan cinta, belas kasih, kepedulian atas nama
kemanusiaan. Karena setiap orang tidak mau menderita, maka jangan melakukannya
kepada yang lain. Begitulah ajaran Buddha, sangat sederhana. Untuk merujuk sumber
kitab bahwa alam semesta dan kehidupan tidak diciptakan atau diatur oleh Tuhan,
pandangan Sang Buddha mengenai ada tidaknya pencipta alam semesta
Salah
satu dari Mahayana Sutra, yaitu Lankavatara Sutra, berisi dialog antara Sang
Buddha dengan Mahamati. Dalam dialog tersebut, Sang Buddha menyatakan bahwa
konsep Tuhan yang berdaulat, atau Atman adalah imajinasi belaka atau perwujudan
dari pikiran dan bisa menjadi halangan menuju kesempurnaan karena ini membuat
kita menjadi terikat dengan konsep Tuhan Maha Pencipta. Kutipan dari sutra
tersebut sebagai berikut, "Semua konsep seperti penyebab, suksesi, atom,
unsur-unsur dasar, yang membuat kepribadian, jiwa pribadi, roh tertinggi, Tuhan
Yang Mahakuasa, Sang Pencipta, adalah imajinasi belaka dan perwujudan dari
pemikiran manusia. Tidak, Mahamati, doktrin Tathágata dari rahim keTathágata-an
tidaklah sama dengan filosofi Atman." (Lankavatara sutra, bab VI). "Asumsi
bahwa suatu Tuhan (isvara) adalah penyebab, dan lain sebagainya, bersandar atas
kepercayaan salah dalam suatu diri yang kekal, tetapi kepercayaan itu haruslah
ditinggalkan, jikalau seseorang sudah dengan jelas mengerti bahwa segala
sesuatu adalah tunduk pada penderitaan. [Vasubhandu, Abhidharmakosa, 5, 8 (vol.
IV, p. 19); Sphutartha, p. 445,26.]. “Bila ada Sang Maha Kuasa yang dapat
mendatangkan bagi setiap mahluk ciptaanya kebahagiaan atau penderitaan,
perbuatan baik maupun jahat, maka yang maha kuasa itu diliputi dosa
[kebencian/kekejaman], sedangkan manusia hanya menjalankan perintahnya saja
[karena sudah diatur].” ( Mahabodhi Jataka No.528 ). “Apabila, O para bhikkhu,
para makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab
dari ciptaan Tuhan (Issara-nimmanahetu), maka para Nigantha (petapa telanjang)
ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara),
karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan.” (Devadaha
Sutta, Majjhima Nikaya 101, Tipitaka Pali).
Dengan
mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak
menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa
tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan
semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa
memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? Saya menganggap
Brahma adalah ketidakadilan. Yang membuat dunia yang diatur keliru.” [Bhuridatta
Jataka, Jataka 543]
Maka
kesimpulannya dalam ajaran Buddha, tidak dikenal adanya pencipta atau pengatur
kehidupan seperti yang tercatat dalam kitab tersebut. Karena ketidaktahuan atau
ketakutan, pada awalnya evolusi manusia memunculkan konsep pencipta atau
pengatur kehidupan. Semua yang terjadi ada sebab dan ada akibat, inilah Hukum
Karma. Begitu pula ada Hukum Fisika (utu niyama), Hukum Biologis (bijaniyama),
dll.
[11]Kāranodakaśāyi
Vishnu (Mahā Vishnu) Wisnu yang berbaring dalam lautan penyebab dan Beliau
menghembuskan banyak alam semesta. Lautan penyebab (Causal Ocean / Lautan
Energi) adalah energi eksternal Tuhan. Sesuai dengan teori fisika terkini
dimana energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Jadi dari setiap
“pori-pori” Kāranodakaśāyi Visnu muncullah Garbhodakaśāyī Visnu yang memunculkan
sebuah alam semesta. Dari satu “pori-pori” memunculkan satu alam semesta yang
terdiri dari jutaan galaksi. Garbhodakaśāyī Visnu dan Dewa Brahma ada di
tiap-tiap alam semesta.
“Benih-benih
transendental (anti materi) Sankarsana muncul dari “pori-pori kulit” Maha Visnu
dalam bentuk telur emas yang tak terhitung jumlahnya sambil maha-Visnu
“berbaring” di lautan penyebab, semua telur tersebut tetap tertutupi oleh unsur
material besar.” (Brahma Samhita Sloka 13).
Secara
Ilmiah munculnya alam semesta dari “pori-pori Tuhan” dalam wujud Kāranodakaśāyi
Visnu ini merupakan area tempat terjadinya perubahan dari Energi menjadi Materi
(penciptaan alam semesta materi), yang merupakan kebalikan dari Pralaya dimana
materi berubah menjadi energi (peleburan). Itulah maka Veda tidak menggunakan
istilah kiamat tetapi peleburan, karena semata-mata hanyalah peleburan dari
materi menjadi energi (tenaga). Ada beberapa tahap Pralaya yang skala waktunya
mulai 4,3 milyar tahun (1 hari siang Brahma) sampai 311 triliun tahun bumi
(akhir hidup Dewa Brahma). Alam semesta ini sedang berada di tahun ke-51 Brahma
atau 155 triliun tahun Bumi setelah Brahma lahir. Setelah Brahma melewati usia
ke-100, siklus baru dimulai lagi, segala ciptaan yang sudah dimusnahkan
diciptakan kembali, begitu seterusnya.
Bhagavad-gita 9.7 : “Wahai
putera Kunti, pada akhir jaman, semua manifestasi material masuk ke dalam
tenagaKu, dan pada awal jaman lain, Aku menciptakannya sekali lagi dengan
kekuatan-Ku.”
Bhagavad-gita 9.8 : “Seluruh
susunan alam semesta di bawah-Ku. Atas kehendak-Ku alam semesta dengan
sendirinya diwujudkan berulang kali. Atas kehendak-Ku akhirnya alam semesta
dileburkan.”
Bhagavad-gita 9.10 : “Alam
material ini, salah satu di antara tenaga-tenaga-Ku, bekerja di bawah
perintah-Ku, dan menghasilkan semua makhluk baik yang bergerak maupun yang
tidak bergerak, wahai putera Kunti. Di bawah hukum-hukum alam material,
manifestasi ini diciptakan dan dilebur berulang kali.”
Śrīmad Bhāgavatam
5.18.31 : “Ya Tuhan, manifestasi kosmik yang terlihat ini adalah demonstrasi
energi kreatif Anda sendiri. Karena bentuk-bentuk yang tak terhitung jumlahnya
dalam bentuk manifestasi kosmik hanyalah sebuah layar energi eksternal Anda
semata”.
Dalam
kitab Purana dan Upanisad digambarkan bahwa alam semesta terbentuk secara
bertahap dan berevolusi. Penciptaan alam semesta dalam kitab Upanisad diuraikan
seperti laba-laba memintal benangnya tahap demi tahap. Akhirnya kita sampai
pada kesimpulan bahwa alam semesta ini menyerupai sebutir telur akan tetapi
informasi ini telah terdapat pada literature Hindu. (Alan Kogut, NASA)
[12]Penciptaan
Langit dan Bumi menurut Al Qur’an terdapat di surat [7:54, 10:3, 11:7, 21:30,
25:59, 32:4, 57:4, 41:9-12 dan 79:27-33]. Surat Al Anbiyaa’ 21:30, menunjukan
keadaan Bumi dan langit saat yang awal mula: Al Anbiyaa’ 21:30, Dan apakah
orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya
dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari
air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga
beriman?.
Surat Fushshilat 41:
9-12, menyajikan urutan pengerjaan Bagaimana penciptaan yang dilakukan Allah:
·
Pertama,(41:9) Bumi di ciptakan dalam
dua masa
·
Kedua, (41:10) Segala isi Bumi diciptakan
total dalam empat masa
·
Ketiga, (41:11) Kemudian Dia menuju
kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata
kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan
suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.”
Surat diatas jelas menunjukan bahwa kedudukan Bumi dan Langit adalah sederajat,
bumi bukan bagian dari langit. Bumi diciptakan terlebih dahulu, diselesaikan
baru kemudian Allah menyelesaikan Langit dan itu dibuktikan di ayat selanjutnya
·
Keempat, (41:12) Maka Dia menjadikannya
tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.
Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami
memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa
lagi Maha Mengetahui.
Surat An Naazi’ aat 79:27-33, juga
menyajikan urutan pengerjaan penciptaan yang dilakukan Allah. Allah menyatakan
bahwa penciptaan Manusia itu jauh lebih mudah daripada penciptaan Langit. Ia
meninggikan Bangunannya lalu menyempurnakannya (79:28). Kemudian ia Menciptakan
siang dan malam. Kemudian bumi dihamparkannya (diisi) dengan memancarkan Air
dan menumbuhkan tumbuhan, gunung-gunung dipancangkan teguh (79:31-32). Untuk
kesenangan Manusia dan binatang ternak milik manusia (79:33).
Al Baqarah yang diturunkan Allah di 2 H
(624 M). Surat ini termasuk golongan surat Al madaniyya yang turun lebih
belakangan dari surat Al Makiyya lainnya yaitu 41, 51, 21 dan surat 79. Di
surat Al Baqarah 2:29, Muhammad dan Jibril bersabda bahwa: “Ia yang menjadikan
segala sesuatunya untukmu di Bumi. Kemudian Ia meninggikan (Iswata ila) langit
dan dijadikanNya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. Setelah
semuanya siap, di dilanjutkan dengan penciptaan Adam di Al Baqarah 2:30-36,
surat itu memperkuat surat-surat penciptaan manusia yang turun sebelumnya yaitu
di 7:10-24, 15:26-33 dan 38:71-84. Disebutkan bahwa Adam diciptakan dari tanah
kemudian Allah berkata, ‘Jadilah!’ [3:59] Pernyataan di surat Al Baqarah
2:29-36 sangat jelas, terstruktur dan ada urutannya, yaitu menciptakan bumi,
kemudian langit ditambah 7 langit dan terakhir Penciptakan Manusia. Jadi, saat
manusia diciptakan maka penciptaan langit sudah final, tidak ada pengembangan
langit lagi. Bukti itu ada di ayat 2:31. Kemudian Dia mengajarkan kepada Adam
nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu
berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar
orang-orang yang benar”.
[13]Ada
banyak kitab besar yang disebut suci : Alkitab untuk orang-orang Katolik dan
Kristen, Al Qur’an untuk orang-orang Islam, Veda untuk orang-orang Hindu, dan
Tripitaka untuk orang-orang Buddha. Semua itu memainkan peran yang sentral
dalam pembentukan dan kehidupan rohaniah orang-orang yang hidup dalam terang
kitab-kitab tersebut. Pada beberapa kebudayaan ada yang tidak mempunyai “kitab
suci” yang tertulis, seperti kebudayaan pada daerah pedalaman dan lain-lain.
[14]Kitab
Suci adalah gabungan dari dua kata yaitu Kitab dan Suci. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia kata Kitab memiliki arti sebuah buku sedangkan kata Suci
memiliki arti (bersih, dalam arti keagamaan yaitu bebas dari dosa, bebas dari
noda, bebas dari kesalahan). Didalamnya berisi Wahyu Tuhan yang di bukukan. Yang
memuat ajaran-ajaran tentang seluruh aspek kehidupan bagi seluruh umat
beragama. Berikut adalah nama-nama kitab suci dari beberapa agama, yaitu :
Agama Buddha : Tripitaka
Agama
Hindu : Veda, biasa juga
disebut dengan nama Catur Veda, terdiri dari: Rigveda, Yajurveda, Samaveda, Atharvaveda
Agama Islam : Al-Qur'an
Agama
Kristen : Katolik dan Ortodoks
: Alkitab (termasuk Deuterokanonika); Protestan : Alkitab (tanpa
Deuterokanonika)
Di bawah ini
adalah beberapa pernyataan tentang kitab suci itu sendiri, baik yang diambil
dari kitabnya sendiri maupun dari penganut-penganut agama-agama :
[15]Alkitab
adalah hembusan Allah (2 Tim. 3:16). Ini mengatakan bahwa Alkitab bukan
sekali-kali berasal dari maksud atau pikiran manusia, melainkan Allah melalui
RohNya menghembuskan maksud dan firman-Nya ke dalam penulis Alkitab, kemudian
dihembuskan pula dari dalam mereka. Karenanya dalam Alkitab terkandung kadar
Allah, juga cita rasa Allah. Berhubung Alkitab adalah Allah melalui Roh-Nya
menghembuskan firman-Nya dari dalam manusia, tentunya bukan berasal dari maksud
manusia, melainkan manusia digerakkan Roh Kudus sehingga mengutarakan daripada
Allah (2 Ptr 1:20, 21). Kalimat ini mempunyai dua makna : Pertama, yaitu
manusia didorong Roh Kudus; kedua, yaitu mengutarakan daripada Allah. Penulis
Alkitab diinspirasi Allah di bawah kuasa Roh Kudus, dihembusi serta dipimpin
Roh Kudus sambil mengucapkan firman Allah. Bahkan mereka mengutarakannya dari
dalam Allah. Roh Allah yang menggerakkan orang berbicara, dan manusia
mengucapkan dari dalam Allah. Dengan kata lain, Allah mengutarakan diri-Nya
dari dalam manusia dan melalui mulut manusia. 2 Samuel 23:2 berkata, "Roh
TUHAN berbicara dengan perantaraanku, firmanNya ada di lidahku." Inilah
yang diungkapkan oleh Daud. Ia sendiri memberitahu kita, bahwa katakatanya itu
adalah Roh Allah berfirman melalui dia, bahkan firman Allah di dalam mulutnya.
Bukan sekedar Roh Kudus berfirman melalui dia, bahkan firman Allah ditaruh di
dalam mulutnya. Firman Allah diutarakan dari mulutnya, itulah Alkitab. Pada
zaman Perjanjian Lama, Allah bersabda di dalam para nabi. Pada zaman Perjanjian
Baru, Allah bersabda di dalam PutraNya, Tuhan Yesus (Ibr. 1:1-2). Jadi sabda
yang disampaikan oleh para nabi pada Perjanjian Lama, maupun sabda yang
disampaikan oleh Tuhan Yesus pada Perjanjian Baru, sernuanya merupakan sabda
Allah yang berasal daripada Allah. Alkitab adalah wahyu Roh Kudus. Yohanes
16:13 berkata, "Apabila Ia datang, yaitu Roh kebenaran, Ia akan memimpin
kamu ke dalam kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya
sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakan-Nya,
dan Ia akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang akan datang.” Yang diungkapkan
oleh Tuhan di sini juga membuktikan bahwa setelah Roh Kudus turun, apa yang
diutarakan dan yang ditulis murid-murid-Nya, adalah yang "Roh Kudus
beritahukan" kepada mereka. Kata-kata Tuhan ini pun membuktikan, bahwa
setelah Ia naik ke sorga, kitab-kitab Perjanjian Baru yang ditulis oleh
murid-muridNya, berasal dari wahyu Roh Kudus, dan otoritas Ilahinya diakui juga
oleh-Nya.
Roh Kudus
berbicara melalui orang, sabda Allah yang diutarakan melalui mulut orang (2
Sam. 23:2), sabda yang dituturkan orang di bawah inspirasi Roh Kudus (Mark 12:36).
Perjanjian Lama adalah firman yang Allah pesankan kepada nabi (Yeremia 1:7),
firman Allah menimpa kepada nabi (Yehezkiel 1:3), firman yang diungkapkan Roh
Allah melalui para nabi (Zak 7:7, Kis 3:18, 28:25; Rm 1:2; 1 Ptr 1:10-12.).
Perjanjian Baru ada yang merupakan firman yang Allah sampaikan di dalam Tuhan
Yesus (Yoh. 14:10), ada yang merupakan tulisan para rasul yang diajarkan Roh
Kudus (1 Kor. 2:13). Tulisan yang Roh Kudus ajarkan rasul, sama Ilahinya dengan
Perjanjian Lama (2 Pet. 3:15,16). Karenanya seluruh Alkitab berasal dari firman
Allah, kata demi kata, kalimat demi kalimat, titik demi titik (Mat 5:18),
semuanya diilhamkan oleh Allah, sehingga manusia tidak boleh menambahkan
apapun, atau pun mengurangi apa pun (Why 22:18,19). [16]Alkitab
ditulis dalam kurun waktu 1500 tahun, dari tahun 1500 BC – 100 AD oleh 35
penulis selama lebih dari 35 generasi, dari segala lapisan masyarakat. Ditulis
diberbagai tempat yang berbeda dalam waktu yang berbeda-beda. Ditulis dalam dua
bahasa yang berbeda: Bahasa Ibrani (PL) dan Yunani (PB). Alkitab Sungguh suatu
hal yang benar bahwa segala sesuatu yang diperlukan untuk menjadi orang
Kristen, hidup sebagai orang Kristen, dan bertumbuh sebagai orang Kristen
disajikan secara jelas dalam Alkitab. Selanjutnya, hidup orang percaya tidak hanya
dimulai dengan Alkitab, tetapi harus selalu berjalan seturut dengan Alkitab.
Matius 4:4, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang
keluar dari mulut Allah.” Sama seperti tubuh jasmani kita memerlukan makanan
jasmani setiap hari, demikian juga tubuh rohani kita memerlukan makanan dari
firman Allah setiap hari.
[17]Umat
Kristen non Katolik sering mengatakan bahwa kitab-kitab deuterokanonika disebut
kitab-kitab “Apokrif” atau “apocrypha” artinya adalah ‘tidak jelas asal
usulnya’ yang berkonotasi dengan buku yang tidak diketahui pengarangnya atau
buku yang keasliannya dipertanyakan. Namun secara umum, perkataan “apokrif”
tadi diartikan sebagai sesuatu yang tersembunyi, salah, buruk dan seharusnya
tidak menjadi bagian dari Kitab Suci. Jika kita membaca isi kitab
Deuterokanonika tersebut tidak ada yang bertentangan dengan isi Alkitab yang
lain, sehingga sesungguhnya tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa kita-kitab
tersebut “buruk”. Kitab tersebut malah memperjelas apa yang disampaikan dalam
kitab Perjanjian Lama yang lain. Contohnya saja ditambahan kitab Esther, ada
uraian tentang mimpi Mordekhai, surat penetapan Haman, doa Mordekhai dan doa
Esther, yang jika dibaca dalam kesatuan dengan Kitab Esther dalam kanon terdahulu
dapat menjelaskan isi Kitab Esther secara lebih lengkap dan membuat ceritanya masuk
akal. (Misalnya, di kitab terdahulu hanya disebut ada surat Haman, tetapi isi
persisnya tidak dijabarkan, sedangkan di kitab tambahan Esther isi surat itu
dijabarkan). Apa alasan persisnya kenapa disebut demikian memang tidak
diketahui. Ada yang menyebutkan karena naskah asli dalam bahasa Ibraninya tidak
diketemukan, namun yang ada hanya terjemahan bahasa Yunaninya, walaupun para
Bapa Gereja pada jemaat Kristen awal tidak meragukan keaslian kitab-kitab ini.
Kitab-kitab yang termasuk Deuterokanonika ini adalah:
-
Tobit
-
Yudit
-
Tambahan kitab Ester
-
Kebijaksanaan
-
Sirakh
-
Barukh, termasuk tambahan surat Yeremia
-
Tambahan kitab Daniel
-
1 Makabe
-
2 Makabe
Kemungkinan
Luther mencoret kitab Deuterokanonika terutama karena tidak setuju dengan isi
Kitab 2 Makabe yang mengajarkan untuk berdoa bagi keselamatan jiwa orang-orang
yang telah meninggal, sebab Luther berpendapat bahwa keselamatan diperoleh
hanya karena iman (Sola Fide).
[18]Al-Qur’ān
(Arab: القرآن) adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam percaya bahwa
Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi
manusia, dan bagian dari rukun iman, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui perantaraan Malaikat Jibril. Dan sebagai
wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah sebagaimana yang
terdapat dalam surat Al-'Alaq ayat 1-5. Ditinjau dari segi kebahasaan,
Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau
"sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata Al-Qur’an adalah bentuk
kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. Dr. Subhi Al
Salih mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut:
“Kalam Allah SWT yang
merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di
mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”. Adapun
Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut:
"Al-Qur'an adalah
firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan
ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara
mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai
dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas".
Dengan
definisi tersebut di atas sebagaimana dipercayai Muslim, firman Allah yang
diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad SAW, tidak dinamakan Al-Qur’an
seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada umat Nabi Musa AS atau Kitab Injil
yang diturunkan kepada umat Nabi Isa AS. Demikian pula firman Allah yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya tidak dianggap sebagai
ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al-Qur’an. Kemurnian Kitab
Al-Quran ini dijamin langsung oleh Allah, yaitu Dzat yang menciptakan dan
menurunkan Al-Quran itu sendiri. Dan pada kenyataannya kita bisa melihat,
satu-satu kitab yang mudah dipelajari bahkan sampai dihafal oleh beribu-ribu
umat Islam.
[19]Seolah
dari api yang berasal dari bahan bakar yang lembab membubunglah gumpalan asap,
dan sesungguhnya lihatlah dari situ Brahman yang Agung menghembuskan Rig Veda,
Yajur Veda, Sama Veda, dan Atharva Veda. Veda-veda itu dinamakan Sruti (sesuatu
yang didengar), sedang tulisan-tulisan lainnya dikenal dengan Smriti (sesuatu
yang diingat). Saga-saga dan penglihatan yang luhur itu dikatakan sebagai telah
mendengar kebenaran agama yang abadi dan meninggalkan catatan tentangnya bagi
kepentingan orang lain. Sesuai dengan itu, Sruti kemudian menjadi otoritas yang
tertinggi bagi Hindu
[20]Kitab
Tipiţaka atau juga dikenal dengan sebutan Kanon Pali (Pali Canon) merupakan
bentuk tertulis dari ajaran Buddha Gauttama selama 45 tahun pengajarannya di
dunia. Terhitung mulai dari beliau mencapai pencerahan sempurna sampai beliau
meninggal dunia atau yang dikenal dengan istilah parinibbāna. Di tahun-tahun
awal setelah beliau wafat, ajaran beliau dihafalkan oleh para murid-muridnya
dan diteruskan secara lisan dari generasi ke generasi. Tiga bulan setelah beiau
parinibanna, para siswa utama berkumpul untuk mengulang secara bersama-sama
seluruh ajaran Sang Buddha. Ajaran ini kemudian dikelompokan secara sistematis
dan seksama sehingga terbagi menjadi 3 bagian utama yaitu Vinaya Piţaka, Suttanta
Piţaka dan Abhidhamma Piţaka. Arti harafiah dari Pitaka adalah keranjang
sehingga Tipitaka dapat diartikan sebagai 3 keranjang atau 3 kelompok ajaran.
Vinaya Piţaka berisi berbagai aturan perilaku dan disiplin. Suttanta Piţaka
yang merupakan kelompok terbesar berisi berbagai khotbah Sang Buddha (dan juga
termasuk beberapa khotbah murid utama beliau). Sedangkan Abhidhamma Piţaka
berisi ajaran yang lebih dalam (filosofis) dibandingkan yang tercantum dalam
Suttanta Piţaka, seperti pengajaran tentang kebenaran tertinggi.
Kadang
kita sebagai orang Kristen sering menganggap kitab suci dari agama lain dengan
rasa kurang simpatik. Dan juga kita kurang merasakan peranan dari kitab suci di
atas di dalam kehidupan sesamanya serta keyakinan mereka yang sungguh-sungguh
terhadap hakekat kitab-kitab itu sebagai wahyu Ilahi. Kita dapat membaca kitab
suci mereka, namun jika kita telah benar-benar memegang teguh apa yang kita
percayai. Beberapa orang percaya membaca kitab suci agama lain telah membantu
pertumbuhan rohaniah mereka sendiri. Sedang yang lain menentang sikap tersebut.
Secara
tidak langsung agama-agama lain selain Kristen juga menafsirkan tentang Yesus.
Cerita tentang Yesus dapat kita temui di dalam Perjanjian Baru. Sejak awal
mula, kekristenan sudah memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus itu. Dan
ternyata orang-orang berkepercayaan lain mempunyai perspektif atau pandangan
yang berbeda tentang Yesus Kristus. Atau mungkin pemikiran mereka tentang Yesus
dapat membantu kita melihat sesuatu yang mungkin tidak kita lihat dan menambah
sesuatu yang baru tentang iman kita. Berikut adalah pandangan kepercayaan lain
mengenai Yesus :
[21]Yesus
sungguh-sungguh manusia. Dari segala orang yang mengenal Yesus di Nazareth atau
telah menjumpai, melihat atau mendengarkannya tak seorang pun ragu-ragu bahwa
Yesus sungguh-sungguh manusia. Mereka mengenal ibunya yang melahirkanNya di
kota Betlehem. Orang telah melihat dia bekerja di bengkel Yusuf. Semua orang
memanggilnya “anak tukang kayu”. Dia mengenal kegembiraan dan kesusahan, Dia
lapar dan haus, lelah dan tidur seperti tiap-tiap orang. Dia dapat tertawa dan
menangis seperti kita dan Dia mengalami nasib yang dialami setiap orang
manusia, yakni Dia telah mati atau meninggal. Dengan kata lain Tuhan itu
senasib dengan manusia. Dan Yesus Kristus juga sungguh-sungguh Allah. Kitab
Suci mengajar kita persis yang sebaliknya, yaitu bahwa kita justru dalam
Kristus baru mulai tahu siapa dan apa Allah itu, karena “Yesus adalah cahaya
kemuliaan Allah dan gambar wujudnya”. Seorang Kristen percaya bahwa Kristus itu
Allah, karena Kristus mengajar demikian tentang diriNya sendiri dan tingkah
lakuNya dan mujizat-mujizatNya membuktikan bahwa Ia mengatakan yang benar.
Begitu Allah menyebut Kristus ketika Ia dibaptiskan Yohanes Pembaptis: “Engkau
PuteraKu yang tercinta, Engkau berkenan kepadaKu”. Jika Kristus biicara tentang
Allah biasanya Ia menyebutNya “BapaKu”. Untuk menjelaskan bahwa hubunganNya
dengan Allah itu lain sekali dengan hubungan kita, maka Kristus bicara tentang
“BapaKu” dan “Bapamu”. Hanya satu kali saja Kristus memakai perkataan “Bapa
kami” yaitu ketika Ia mengajar orang-orang bagaimana mereka harus menyebut
Allah waktu berdoa. Kristus berkata bahwa Dia dan Allah adalah satu: “Aku dan
Bapa adalah satu” (Yoh 10, 30). “Barangsiapa melihat Aku melihat Bapa” (Yoh 14,
9). “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh 14, 11). Inilah beberapa
kutipan dari Kitab Suci untuk membuktikan bahawa Yesus mengajar bahwa Ia
sungguh-sungguh Allah. Dia menyadari kekuasaanNya Ilahi: atas namaNya sendiri
Ia mengerjakan mujizat-mujizat, atas namaNya sendiri Ia membangkitkan orang
dari kematian dan mengampuni dosa. Seorang Kristen percaya bahwa Kristus yang
berwujud manusia itu sungguh-sungguh Allah juga tidak kurang dari Bapa dan Roh
Kudus. Tetapi dia juga percaya bahwa Kristus yang berhakekat Allah itu,
sungguh-sungguh manusia juga seperti orang-orang lain.
[22]Beberapa
catatan atau pandangan penting mengenai Yesus Kristus dalam Al-Qur'an dan
Hadist, sebagai berikut :
Silsilah
Isa tersambung dari Ibrahim melalui putranya Ishak, dimana Nabi Muhammad juga
berasal dari keturunan saudaranya Ismail. Yesus adalah salah satu nabi yang
tergolong dalam Ulul Azmi, yakni Nabi dan Rasul yang memiliki kedudukan tinggi/istimewa
bersama dengan Muhammad, Ibrahim, Musa dan Nuh. Yesus hanya diutus khusus untuk
kaum Bani Israil. Yesus bukanlah Tuhan maupun anak Tuhan, melainkan salah
seorang manusia biasa yang diangkat menjadi nabi dan rasul, sebagaimana juga
setiap nabi lain yang diutus pada masing-masing kaum. Kelahiran Yesus terjadi
dengan ajaib, tanpa ayah biologis, atas kekuasaan Tuhan. Ibunya yang bernama
Maryam, adalah dari golongan mereka yang suci dan selalu mendekatkan diri
kepada Tuhan. Yesus memiliki beberapa keajaiban atas kekuasaan Tuhan. Di
samping kelahirannya, Ia mampu berbicara saat berumur hanya beberapa hari, Ia
berbicara dan membela Ibunya dari tuduhan perzinaan. Dalam Qur'an juga diceritakan
saat Ia menghidupkan orang yang sudah mati, menyembuhkan kebutaan dan lepra.
Yesus menerima wahyu dari Tuhan yakni Injil (merujuk pada perjanjian baru agama
Kristen), namun versi yang dimiliki oleh umat Kristiani saat ini, menurut umat
Islam telah diubah dari versi aslinya. Beberapa pendapat dalam Islam
menyebutkan bahwa Injil Barnabas adalah versi Injil paling akurat yang ada saat
ini.
Yesus
tidak dibunuh maupun disalib, Tuhan membuatnya terlihat seperti itu untuk
mengelabui musuh-musuhnya. Terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa
salah seorang musuhnya diserupakan dengan dia, sedangkan Isa sendiri diangkat
langsung ke surga dan musuhnya yang diserupakan tadi adalah orang yang disalib.
Sementara pendapat lain (antara lain Ahmad Deedat dengan bersumber dari
Alkitab) mengatakan bahwa Isa benar-benar disalib namun tidak hingga mati
kemudian diangkat ke surga. Terdapat pula pendapat lain yang mengatakan bahwa
yang disalib oleh tentara Roma bukan Isa melainkan salah seorang pengikutnya yaitu
Yudas Iskariot. Yesus masih hidup dan berada di surga, suatu hari Ia akan
datang kembali ke bumi untuk melawan Dajjal (atau Antikristus dalam agama
kristen) dan merupakan salah satu tanda-tanda dekatnya akhir zaman. Yesus bukan
penebus dosa manusia, Islam menolak konsep dosa turunan dan menganut konsep
bahwa setiap manusia bertanggung jawab dan hanya akan diadili atas perbuatannya
sendiri.
[23]Ada
2 nats yang sangat mempengaruhi Panikkar, yakni : “Dalam zaman yang lampau
Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan
tidak menyatakan dirinya” (Kis 14:16-17). Dan “Apa yang kamu sembah tanpa
mengenalnya, itulah yang Kuberitakan kepada kamu” (Kis 17:23b). dari kedua nats
ini ia menarik kesimpulan bahwa Kristus hadir dalam agama Hindu dan dengan
demikian agama Hindu adalah cara yang efektif bagi jutaan orang untuk
memperoleh keselamatan dan untuk dipersatukan dengan Allah, justru karena
kehadiran Kristus terselubung di dalamnya. Di dalam agama Kristen, Kristus
dinyatakan dengan sempurna. Oleh karena itu, tugas kaum Kristen adalah untuk
membuka selubung yang ada di agama Hindu.
Mahatma
Gandhi melihat Yesus sebagai Satyagrahi (dia yang berpegang pada kebenaran yang
tertinggi). “Yang saya tangkap dari pesan Yesus tercakup dalam khotbah di
bukit. Jiwa dari khotbah di bukit berpacu hampir sama seperti Bhagavadgita.
Khotbah itu membuat Yesus sangat tercinta bagiku” demikian penuturan Mahatma
Gandhi. Ia mengakui Yesus sebagai martir, penjelmaan dari pengorbanan sejati
dan ia melihat salib sebagai teladan yang agung bagi dunia.
[24]Buddha
tidak pernah menganggap dirinya sebagai Allah atau dewa apa pun. Sebaliknya,
dia memandang dirinya sebagai “penunjuk jalan” bagi orang-orang lain. Hanya
setelah kematiannya barulah dia diangkat menjadi Allah oleh beberapa
pengikutnya, meskipun tidak semua pengikutnya melihat dia sedemikian.
Sebaliknya, dalam kekristenan, dikatakan dengan jelas sekali dalam Alkitab
bahwa Yesus adalah Anak Allah (Matius 3:17): “Lalu terdengarlah suara dari
sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku
berkenan" dan bahwa Dia dan Allah adalah satu (Yohanes 10:30). Seseorang
tidak bisa memandang dirinya sebagai orang Kristen tanpa percaya kepada Yesus
sebagai Allah. Yesus mengajarkan bahwa Dia adalah jalan dan bukan sekedar
seseorang yang menunjukkan jalan, sebagaimana yang ditegaskan oleh Yohanes
14:6: Kata Yesus kepadanya "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak
ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Ketika
Gautama meninggal dunia, Budhisme sudah merupakan pengaruh besar di India tiga
ratus tahun kemudian, Buddhisme telah mencakup sebagian besar Asia. Kitab-kitab
suci dan perkataan-perkataan yang dikaitkan dengan sang Buddha ditulis sekitar
empat ratus tahun setelah kematiannya. Dalam Buddhisme, dosa umumnya dipandang sebagai
ketidaktahuan. Walaupun dosa dimengerti sebagai “kekeliruan moral,”
"kejahatan" dan "kebaikan" dipahami dalam konteks amoral. Karma
dipahami sebagai keseimbangan alam dan bukan yang diterapkan secara pribadi.
Alam bukan moral; karena itu, karma bukanlah aturan moral, dan dosa pada
dasarnya bukanlah tidak bermoral. Karena itu dapatlah kita katakan, berdasarkan
pemikiran Buddha, bahwa kesalahan kita bukanlah masalah moral karena pada
dasarnya itu bukanlah kesalahan antar pribadi. Konsekuensi pemahaman yang
demikian amatlah merusak. Untuk orang Buddha, dosa lebih serupa dengan salah
langkah dan bukannya pelanggaran terhadap natur Allah yang suci. Pemahaman
sedemikian akan dosa tidak sejalan dengan kesadaran naluri moral bahwa manusia
bersalah di hadapan Allah yang suci karena dosa mereka (Roma 1-2). Karena Buddha
menganggap bahwa dosa bukan bersifat pribadi dan adalah kekeliruan yang dapat
diperbaiki, Buddhisme tidak menerima doktrin kejatuhan, doktrin dasar dalam
kekristenan. Alkitab memberitahu kita bahwa dosa manusia adalah masalah kekal
yang berdampak kekal. Dalam Budhisme tidak diperlukan juruselamat untuk
menyelamatkan orang dari dosa yang mencelakakan. Bagi orang kristen, Yesus
adalah satu-satunya jalan untuk selamat dari hukuman kekal. Untuk orang Buddha,
yang ada hanyalah hidup secara etis dan bermeditasi kepada dewa dewi dengan
harapan dapat memperoleh pencerahan dan Nirvana. Mungkin sekali seseorang harus
mengalami sejumlah reinkarnasi untuk melunasi hutang karma yang begitu
bertumpuk. Untuk pengikut Budhisme yang sejati, agama itu adalah sebuah
filsafat moral dan etis, yang dibungkus dalam penyangkalan terhadap diri
sendiri seumur hidup.
Orang kristen
mengetahui bahwa Allah mengutus anak-Nya untuk mati bagi kita, sekali, supaya
kita tidak perlu menderita secara kekal. Dia mengutus Anak-Nya supaya kita tahu
bahwa kita tidak sendiri dan bahwa kita dikasihi. Kekristenan mengetahui bahwa
hidup itu bukan hanya penderitaan dan mati, “Dan yang sekarang dinyatakan oleh
kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan
kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (2Tim 1:10). Buddhisme
mengajarkan bahwa Nirvana adalah keberadaan tertinggi, suatu kondisi yang
murni, dan itu dicapai dengan cara yang relatif terhadap orang itu. Nirvana
tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan tatanan logis dan karena itu tidak
dapat diajarkan, hanya direalisasikan. Sebaliknya, pengajaran Yesus mengenai
surga amat jelas. Dia mengajarkan bahwa tubuh fisik kita akan mati, namun roh
kita akan bersama dengan Dia di surga (Markus 12:5). Buddha mengajarkan bahwa
orang tidak memiliki jiwa secara pribadi, karena diri sendiri atau ego adalah
ilusi belaka. Untuk seorang Buddha, tidak ada Bapa surgawi yang berbelas
kasihan yang mengutus Anak-Nya untuk mati bagi kita, untuk keselamatan kita,
untuk menyediakan jalan bagi kita mencapai kemuliaan-Nya.
Inti
dari pandangan-pandangan di atas adalah apapun pandangan dari kepercayaan lain
tentang siapa Yesus Kristus dan apa yang telah di perbuatnya, entah dalam
pandangan mereka itu baik atau buruk biarlah itu menjadi sebuah pelajaran bagi
kita sebagai orang-orang percaya. Sebagai pengikut Kristus kita tidak
seharusnya cepat bereaksi dengan tindakan yang gegabah, namun walaupun begitu
kita harus lebih menghormati pandangan mereka tentang kepercayaan kita. Justru
dengan adanya pandangan yang pro dan kontra kita dituntut untuk lebih mengenal
dan mengimani siapa Yesus dalam hidup kita.
Persoalan
keselamatan mungkin bukan merupakan suatu masalah yang paling sulit bagi
pemahaman agama-agama. Kesulitan tersebut muncul antara lain karena kenyataan
bahwa pengalaman rohaniah tersebut demikian menentukan sehingga mereka yang
hidupnya telah diubah oleh pengalaman itu cenderung membuat klaim yang
eksklusif terhadap jalan atau pengalaman keselamatan mereka. Berikut akan
dijabarkan mengenai pandangan keselamatan menurut berbagai agama.
[25]Biasanya
setiap orang Kristen berpendapat bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus
Kristus, bahkan lebih sempit lagi tidak ada keselamatan di luar gereja. Adapun
dasar yang dipakai adalah Yohanes 14:6 “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”. Yesuslah jalan
itu dan di luar Dia manusia akan tersesat. Banyak orang yang berbicara tentang
kebenaran, tetapi hanya Yesuslah yang dapat mengatakan Akulah kebenaran itu.
Orang lain mengajarkan tentang jalan kehidupan, tetapi hanya dalam Yesus orang
menemukan kehidupan itu. Karena itu hanya Dia saja yang dapat membawa manusia
kepada Tuhan.
Yesus
telah menyelamatkan setiap orang di muka bumi ini dengan penyalibannya 2000
tahun yang lalu dan bila seseorang menerima Yesus saat ini sesungguhnya orang
tersebut sudah diselamatkan 2000 tahun lalu, namun orang tersebut baru
mengulurkan tangannya saat ini untuk bersatu dengan Yesus, sementara banyak
orang lain belum mau menerima atau menyangkal penebusan yang dilakukan Yesus
2000 tahun yang lalu. Selanjutnya dalam sisa hidupnya orang tersebut harus
menjalankan perintah sesuai dengan yang diajarkan Yesus. Juga menjalankan
amanat Agung seperti yang tertulis dalam Matius 28:19-20. Di dalam ayat
tersebut Yesus menyatakan misi untuk semua pengikutnya. Pembuktian kepercayaan
umat Kristen bahwa Yesus adalah Juru Selamat dunia adalah dari ayat-ayat
berikut :
-
(Efesus 2:8-9) “Semua karena kasih karunia
kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
-
(Yohanes 3:16) “Karena begitu besar
kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anakNya yang
tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan
beroleh hidup yang kekal.”
-
(1 petrus 2:24) “Ia sendiri telah
memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati
terhadap dosa, hidup untuk kebenaran.”
-
(Roma 10:9-10) “Sebab jika kamu mengaku
dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah
telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.
Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku
dan diselamatkan.”
Namun Yesus sendiri sudah berkata
sebelumnya bahwa untuk menjadi muridNya bukanlah hal yang mudah, bahkan Ia
berkata kita seperti seekor domba di tengah-tengah serigala (Matius 10:16). Dan
untuk menjadi mudridNya ada syarat yang Ia tetapkan, yaitu menyangkal diri,
memikul salib dan mengikut Dia.
Kesimpulan dari pernyataan yang kita
dapat dari pernyataan dan ayat-ayat diatas mengemukakan bahwa menurut ajaran Kristen
Juruselamat yang dapat menebus dosa-dosa manusia adalah Yesus. Dalam Yesus, semua
orang telah diselamatkan oleh kematianNya di kayu salib, dosa-dosa kita yang
tadinya merah seperti kirmizi telah dibayar lunas oleh Dia.
[26]Pada
dasarnya ajaran Katholik sama dengan Kristen yaitu mengakui Yesus sebagai Tuhan
dan Juru Selamat serta keselamatan adalah anugrah dari Allah. Namun Katholik
punya konsep keselamatan tersendiri. Dalam ajaran Katholik, orang yang
diselamatkan adalah orang yang mengimani Yesus Kristus sebagai Tuhan dan
Juruselamat serta mengimani bahwa Gereja Katholik adalah satu-satunya agen
keselamatan. Sehingga tidak ada agen lain yang dapat membawa keselamatan selain
Gereja Katholik. Namun, ajaran Katholik juga meyakini bahwa masih ada terbuka
peluang keselamatan bagi mereka yang tidak masuk dalam anggota Gereja Katholik.
Dengan catatan,orang ini sama sekali tidak bisa atau tidak pernah mendengar
ajaran Gereja Katholik tapi selalu mencari akan kebenaran yang sejati dan tidak
banyak berbuat dosa. Ini yang dinamakan dengan Invisible Ignorance, dimana
semuanya adalah misteri Tuhan. Namun yang pasti, bagi mereka yang mengikuti
ajaran Katholik, mereka juga harus mengikuti semua perintah dan larangan dalam
ajaran Katholik untuk dapat masuk surga.
[27]Islam
mempercayai untuk masuk ke dalam kehidupan yang kekal dalam kebahagiaan, atau
yang dikenal dengan surga, jalannya sangat sulit sehingga kadang digambarkan
seperti melewati titian rambut dibelah tujuh. Tapi syaratnya memang sederhana
yaitu mengimani Allah SWT sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai nabiNya.
Ajaran Islam juga mengharuskan umatnya mengikuti perintah-perintah yang telah
diperintahkan Allah SAW dan nabi Muhammad. Dasar agama Islam tidak dari Al
Qur’an saja tetapi juga Al Hadist dan As Sunnah. Secara singkat, konsep
keselamatan dalam agama Islam ada 2 hal yaitu Rukun Iman dan Rukun Islam.
Rukun Iman, yaitu
sebagai berikut :
-
Percaya keberadaan Allah
-
Percaya keberadaan Malaikat
-
Percaya Kitab-kitabnya
-
Percaya kepada para utusanNya
-
Percaya adanya hari kiamat
-
Percaya adanya takdir
Rukun
Islam :
-
Kalimat Syahadat
-
Shalat 5 waktu
-
Melaksanakan Zakat
-
Berpuasa di bulan Ramadhan
-
Naik haji bila mampu
Menurut ajaran Islam, dengan menaati
kedua hal tersebut maka akan menuntun manusia ke jalan yang benar. Sedangkan
nanti jika tiba pada hari kiamat, manusia akan mempertanggungjawabkan
perbuatannya. Akan ada yang langsung ke neraka atau surga, tapi ada juga yangg
harus melewati ujian. Dimana jika gagal melaksanakan ujian, manusia akan masuk
neraka sementara waktu sampai hukumannya setimpal dengan perbuatan jahatnya
sebelum dipersilahkan masuk ke surga. Untuk masuk surga
tidaklah mudah karena manusia bisa masuk surga jika timbangan amal kebaikan
lebih besar daripada timbangan keburukan. Dan harus melewati jembatan yang
lebarnya seperti rambut yang dibagi 7.
[28]Di
dalam Buddha Dhamma, kita tidak diajarkan untuk “berdoa” kepada sosok Juru
Selamat ataupun sosok Yang Maha Kuasa yang memiliki sifat-sifat serta
kepribadian seperti halnya manusia. (Menghukum, memberikan pahala, mengasihi,
membenci, murka, iri hati, tidak mau diduakan dsb). Sang Buddha pernah bersabda
:
Oleh
diri sendiri kejahatan dilakukan,
oleh diri
sendiri seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak
suci tergantung pada diri sendiri.
Tak seseorang
pun yang dapat mensucikan orang lain.
(Dhammapada 165)
Dari Sabda Beliau tersebut diatas, dapat
dimengerti bahwa tak peduli apapun agama dan kepercayaan seseorang, umat
Kristiani, Muslim, Hindu, Yahudi, Tao, Kong Hu Cu, Buddha, maupun Atheis
semuanya mempunyai hak dan kebebasan yang sama untuk dapat menikmati hidup yang
bahagia dan kelak masuk ke “Alam Surga”, asalkan ia banyak berbuat kebajikan
melalui pikiran, ucapan dan jasmani serta senantiasa menghindari kejahatan. Dan
semua itu tidak bergantung kepada sosok makhluk Adikuasa manapun juga, semua
semata-mata kembali kepada usaha kita sendiri.
Konsep agama Buddha tentang Keselamatan
dan Kebebasan memang berbeda dengan agama-agama lainnya, Jalan Keselamatan yang ditunjukkan oleh Sang
Buddha bukanlah monopoli untuk suatu suku bangsa, ras, agama dan golongan
tertentu saja, tapi untuk semua makhluk, seperti tercantum dalam
Avatamsaka-sutra bab 10 :
“ Bagaikan awan
hujan yang besar
Menjatuhkan
hujan ke seluruh penjuru bumi ;
Curahan hujan
tidak membeda-bedakan siapapun
Demikianlah
kebenaran semua Buddha. “
Jalan keselamatan dan kebebasan dari
kehidupan yang fana ini tidak bisa didapat dengan cara memohon-mohon kepada
makhluk Adikuasa ataupun kekuatan eksternal lainnya, seseorang menjadi suci
atau tidak suci tergantung pada dirinya sendiri. Kita sendirilah yang
bertanggung jawab terhadap semua perbuatan yang kita lakukan dalam kehidupan
ini, janganlah berusaha untuk menyalahkan pihak lain jika hidup ini dipenuhi dengan
penderitaan, karena sejak awal dalam pengajaranNya Sang Buddha juga telah
menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan ini adalah Dukkha.
Oleh karenanya Beliau mengajarkan Dhamma
kepada kita, Beliau juga telah menunjukkan “Jalan Keselamatan dan kebebasan”
itu dengan berbagai cara, Beliau menganjurkan dan senantiasa mendorong setiap
orang untuk menjadikan Nibbana sebagai tujuan hidupnya serta agar berupaya
dengan tekun dan bersungguh-sungguh untuk mencapainya. Beliau tidak pernah
memberikan motivasi dengan janji-janji dan impian-impian indah tentang kehidupan “Surga abadi” dengan hanya berbekal percaya kepadanya dan
“mengimani” apapun yang dikatakannya, Beliau telah mengajarkan kepada kita
bahwa hanya diri kita sendirilah yang harus berusaha dan mengerjakan “Jalan
Kebebasan” itu, Sang Buddha hanyalah menunjukkan Jalannya, seperti Sabda Beliau
pada Dhammapada XX : 4 (276) :
Engkau
sendirilah yang harus berusaha,
para Tathagata
hanya menunjukkan “Jalan”.
Sang Buddha juga tidak pernah meminta
ataupun memerintahkan “Pujalah saya, percayalah hanya kepadaku saja” dan kita
akan mendapatkan jaminan berkah keselamatan duniawi dan pahala surgawi.
Demikian pula kita tidak diajarkan untuk hanya percaya begitu saja terhadap
sesuatu yang dikatakan sebagai Wahyu dari kitab suci yang mengatakan bahwa jika
kita beriman sepenuhnya kepadaNya, maka semua dosa-dosa kita akan terhapuskan
dan jaminannya adalah masuk ke Surga abadi. Tentang hal ini, kita dapat merujuk
Sabda Beliau pada Jnanasarasamuccaya:31 :
"Sebagaimana
orang bijaksana menguji emas
dengan
membakar,memotong dan menggosoknya
(pada sepotong
batu penguji),
demikian pula
kalian menerima kata-kata-Ku setelah memeriksanya
dan bukan hanya
karena rasa hormat terhadap-Ku."
Dalam
Buddha Dhamma, keselamatan dan kebebasan ini dapat dicapai dalam kehidupan saat
ini juga dan tidak perlu menunggu setelah kematian jasmaninya, sebagaimana
disabdakan oleh Sang Buddha dalam Parinibbana Sutta :
" Mengenai Bhikkhu
Salba , O, Ananda, dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran batinnya selama
hidupnya itu, maka ia telah memperoleh kebebasan batiniah dari noda, telah
mendapatkan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan hal itu telah dipahami dan
disadarinya sendiri”
Demikian
pula didalam Satipatthana Sutta (Majjhima Nikaya I;10), Beliau telah
menunjukkan Jalan Keselamatan dan Kebebasan ini untuk dapat dicapai oleh setiap
orang pada kehidupan sekarang ini juga, cuplikan Sutta tersebut, adalah sebagai
berikut :
“ Para bhikkhu, ini
adalah satu-satunya jalan untuk mensucikan makhluk-makhluk, untuk mengatasi
penderitaan duka nestapa, untuk menghancurkan kesusahan dan kesedihan, untuk
mencapai jalan kebenaran, untuk mencapai Nibbana (nirvana), jalan itu adalah
Empat Perkembangan Perhatian .....”
“ Para bhikkhu,
bilamana seseorang melaksanakan dengan sungguh-sungguh Empat Perkembangan
Perhatian seperti ini selama tujuh tahun, maka salah sebuah dari dua hasil yang
dapat dicapainya Pengetahuan (kesuciannya) pada kehidupan sekarang ini, atau
jika masih ada bentuk ikatan tertentu ia mencapai tingkat kesucian Anagami.”
Jalan
Kebebasan hanya dapat dicapai dengan cara mengalaminya sendiri dengan
mempraktikkan Sila, Samadhi dan Panna. Di dalam “Mahasatipathana-Sutta”,
dinyatakan
“Jalan ini, wahai para
Bhikkhu, adalah jalan tunggal demi kesucian makhluk-makhluk, demi melampaui
kesedihan dan ratap tangis, demi kepadaman penderitaan dan kepiluan hati, demi
mencapai hal yang benar, demi membuat pencerahan Nibbâna; Jalan itu adalah
Empat Perkembangan Perhatian (satipatthâna).
Di
dalam Buddha Dhamma disebutkan bahwa Surga bukanlah tujuan utama dan tertinggi
bagi umat Buddha maupun bagi semua makhluk. Terbebas dari daur ulang “Tumimbal
lahir“ inilah yang merupakan “Keselamatan Absolut” dan “Kebebasan Mutlak”,
karena saat itulah semua makhluk akan terbebas sepenuhnya dari lingkaran
kelahiran dan kematian (samsara). Keselamatan dan Kebebasan mutlak ini hanya
dapat diraih dengan merealisasi “Nibbana” yaitu; Keadaan tanpa nafsu keinginan,
yang merupakan pemadaman total dari
semua kekotoran batin. Demikianlah, sehingga Keselamatan dan Kebebasan dalam
Buddha Dhamma bukanlah hal sederhana sebagai pencapaian kehidupan di alam surga
semata. Keselamatan dalam Buddha Dhamma merupakan terbebasnya suatu makhluk
dari putaran arus kelahiran dan kematian (samsara), yang penuh dukkha, kepiluan,
dan ratap-tangis. Keselamatan sedemikian ini hanya akan dicapai saat suatu
makhluk, dalam hal ini seseorang manusia, merealisasi Nibbana, mencapai
Pencerahan, mencapai ke-Buddha-an.
[29]Menurut
Agama Hindu konsep keselamatan adalah untuk semua. Tidak ada yang menyangkal
keselamatan. Bahkan jika kita tidak percaya pada Tuhan, Ateis dan Agnostik dapat
mencapai keselamatan. Satu tidak perlu menjadi seorang Hindu untuk mencapai
keselamatan. Semua orang akhirnya akan mencapai keselamatan apakah mereka
percaya kepada Tuhan atau praktik agama apapun. Keselamatan dalam Hindu dikenal
sebagai self-realisasi atau moksha. Itulah alasan mengapa setiap orang di bumi
harus memberikan spiritualitas lebih penting dan kurang penting bagi dogma
keagamaan. Dalam keyakinan umat Hindu, Moksha adalah suatu keadaan dimana jiwa
merasa sangat tenang dan menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya. Karena tidak
terikat lagi dengan hawa nafsu atau benda material. Pada saat mencapai keadaan
Moksha, jiwa terlepas dari siklus reinkarnasi sehingga jiwa tidak bisa lagi
menikmati suka dan duka dunia. Oleh karena itu Moksha menjadi tujuan terakhir
yang ingin dicapai oleh umat Hindu.
Konsep
tentang hidup kerohanian berbeda-beda dari satu agama ke agama yang lain. Juga
istilah “spiritualitas” dipahami dengan beranekaragam. Berikut akan disajikan
penjelasan tentang ibadah dan doa dari agama-agama berikut :
[30]Ibadah
pada pada hakekatnya adalah penyembahan, pemujaan dan pengabdian kepada Tuhan.
Manusia beribadah kepada Tuhan di dalam dan melalui seluruh keberadaan, gerak
hidup dan kegiatannya (Yos 24:15) dan itu terus menerus harus dilatih dan
dibiasakan (1 Tim 4:7b). secara khusus manusia menetapkan waktu, tempat dan
cara beribadah, agar dapat lebih memusatkan perhatian dalam berjumpa dengan
Allah. Dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia tidak mampu lagi
berhadapan muka dengan Allah, manusia merasa takut dan malu, sehingga menjauhi
Allah (Kej 3:9-10). Akibatnya pertemuan manusia dengan Allah kehilangan makna
yang yang asasi, dan serentak dengan itu sulit ditemukan ibadah yang benar.
Untuk itulah Allah membebaskan umatNya, dan pembebasan oleh Allah itu
membuahkan ibadah di antara umat Allah (Kel 3:18; 5:3; 20:5,24). Di dalam
Ibadah Tuhan Allah menyapa mendatangi, melayani,dan menguduskan umatNya,
sekaligus menyampaikan kehendakNya tentang hal-hal yang terjadi kini dan nanti.
Serempak dengan itu, di dalam ibadah manusia menjawab suara dan perbuatan Tuhan
dalam bentuk Mazmur, pujian, syukur, pengakuan, doa dan persembahan (1 Taw
29:13; Mzm 18:30, 33; 100:4; Yes 12:1-5). Dengan demikian yang menjadi pusat
dan pokok perhatian di dalam ibadah adalah Allah sendiri, dan di dalam ibadah
terjadi pertemuan dan dialog antara Allah dengan umatNya. Pertemuan dan dialog
itu tidak dapat diikat oleh bentuk dan pola ibadah manapun, melainkan
bergantung pada anugerah dan kebebasan Allah yang berkenan hadir, dan juga pada
ketaatan umatNya atas apa yang dituntut dan diperintahkan Tuhan (Yer 7:1-15).
Tuhan Allah dipuji dengan segala yang ada pada manusia. Dengan berbagai bentuk
dan jenis kegiatan dengan berbagai peralatannya, yang adalah karunia bagi
manusia, dan dengan segala daya dan upayanya, manusia mensyukuri pembebabasan
dan berkat Tuhan yang melimpah itu. Ibadah bukan saja untuk kekinian, melainkan
juga menjadi tanda yang khas hingga keakanan, yaitu Yerusalem baru (Why 21:26).
Ibadah tidak dapat dipisahkan dari keselamatan dan pembebasan oleh Allah. Oleh
sebab itu ibadah merupakan pujian dan ungkapan syukur kepada Allah (Mzm 98:111;
Kol 3:15-16). Di dalam pertemuan ibadah, umat Allah berhimpun dengan tertib dan
teratur, karena mereka sedang menghadap Tuhan dan karena Tuhan adalah sumber
ketertiban dan keteraturan (1 Kor 14:26-40; Ef. 4:16). Ibadah ditata dan
diselenggarakan berdasarkan makan ibadah yang dijelaskan di atas. Di dalam
ibadah itu di satu sisi pelayan ibadah mewakili Tuhan di hadapan umatNya dan di
sisi lain mewakili sekaligus bersama umat Tuhan di dhadapanNya. Oleh sebab itu
ibadah adalah wujud pelayanan Tuhan kepada umatNya (Mzm 121) dan penyembahan
umat kepada TuhanNya (Yoh 4:24; Why 4:10-11; Dan 6:21).
Doa
tidak terpisahkan dari ibadah. Berdoa adalah kewajiban orang percaya yang harus
dilakukan dengan tekun dan terus menerus (1 Tes 5:15), dengan bimbingan Roh
Kudus (Ef.6:18Rm 8:15-16). Doa didtujukan kepada Allah Bapa di Sorga dan
berdasarkan kesaksian Injil Matius tentang doa yang diajarkan Tuhan Yesus, berdoa
merupakan tekad orang percaya untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, sebagai
suatu pengakuan atas ketergantungan kita kepada Allah Bapa, dan sekaligus
sebagai pujian dan permohonan kepadaNya (Mat 6:9-13). Doa sebagai permohonan
atas kebutuhan kita akan dijawab Allah sesuai dengan kehendak, waktu dan
caraNya. Yesus berjanji bahwa Bapa akan memberikan apa yang kita minta di dalam
namaNya (Yoh 15:16). Doa di dalam nama Tuhan Yesus adalah doa yang disampaikan
dengan penuh keyakinan (bnd Yak 5:13-18). Jadi doa di dalam nama Tuhan Yesus
bukan formulasi magis, bukan pula ucapan yang bertele-tele, yang mengundang
pujian manusia (Mat 6:7-8). Doa di dalam ibadah (kebaktian) umum, termasuk doa
syafaat (doa bagi orang lain) adalah doa dari seluruh warga persekutuan jemaat;
jadi bukan doa pribadi dari pemimpin doa. Rumusan berkat Tuhan pada ibadah
disampaikan berdasarkan keyakinan bahwa Allah di dalam Yesus Kristus dan
persekutuan Roh Kudus mencurahkan berkatNya karena kasihNya kepada kita. Berkat
Allah tidak diukur oleh berhasil atau gagalnya kita, atau bahkan kaya miskinnya
kita dalam kehidupan dunia ini, karena setiap orang percaya senantiasa hidup di
bawah naungan berkat Allah. Berkat pada ibadah tidak berasal dari pelayan
ibadah, dan juga tidak bergantung pada apa yang kita perbuat, melainkan dari
Allah, sumber segala berkat (Ul 7:12-26; 11:8-32).
Persembahan
adalah ungkapan syukur umat Tuhan terhadap perbuatan Allah yang membebaskan,
memelihara, menuntun dan memberkati umatNya (Kej 4:3-4; 28:22; Kel 29:26; 30:16;
UL 16:17; Mzm 50:14,23). Pemberian Allah tidak dapat diukur dan dinilai, karena
itu kita memberi persembahan dengan sukacita sebagai ungkapan cinta kasih kita
kepada Tuhan (Mrk 12:41-44; Rm 12:1,2 Kor 9:6-7; Ibr 13:15-16). Persembahan
disampaikan kepada Tuhan yang kemudian memperkenankan gerejaNya menggunakan
persembahan itu bagi pelaksanaan tugas panggilan dan pelayanan gereja (1 Taw
29:1-9), 1 kor 16:1-4). Persembahan disampaikan dalam berbagai bentuk dan cara,
sebagai sambutan atas berkat Tuhan. Persepuluhan adalah salah satu bentuk
penyampaian persembahan syukur yang dianjurkan kepada seluruh warga dan pelayan
gereja. Namun pada hakikatnya seluruh warga dan pelayan gereja diajak untuk
mempersembahkan seluruh hidupnya, dan yang terbaik dari yang ada padanya.
Di samping ibadah secara rutin yang dilaksanakan pada hari minggu, umat Kristen juga memiliki upacara khusus, yang biasa disebut dengan sakramen. Ada 2 macam sakramen untuk Kristen, yaitu sakramen Baptisan dan sakramen Perjamuan. Sedangkan untuk umat Katholik terdapat 7 sakramen yang pengadaannya ada yang secara khusus dan ada yang secara rutin. Sedangkan gereja Katholik ada tujuh sakramen, yaitu :
A. Permandian,
yang olehnya menurut ajaran Katolik Roma menghilangkan dosa asal,
B. Penguatan,
yang diberikan kepada anak-anak setelah berumur kira-kira 12 tahun, untuk
menguatkan mereka dalam perjuangan iman yang akan datang,
C. Ekaristi,
berasal dari istilah Yunani “Eucharistia”, artinya ucapan syukur,
D. Pengakuan,
yaitu pengakuan dosa-dosa yang dilakukan setelah Permandian dan yang diampuni
dengan perantaraan kuasa imam,
E. Perminyakan,
yang memberi kepada orang sakit kekuatan untuk mati secara Kristen,
F. Imamat
(keimaman, pentahbisan menjadi imam) yang olehnya diberi kekuasaan untuk
melanjutkan keimaman Kristus,
G. Perkawinan,
yang menurut ajaran katolik Roma ditetapkan oleh Allah dalam taman Firdaus dan
oleh Yesus diangkat menjadi sakramen.
[31]Ibadah
adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para
Rasul-Nya dan adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu
tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan)
yang paling tinggi. Ibadah juga adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang
dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan,
yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling
lengkap.
Ibadah
terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut),
raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah
(senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan
hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan
hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat,
zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta
masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan
dan badan. Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:
وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ
وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah
kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak
menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah
Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (Adz-Dzaariyaat:
56-58)
Allah
Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah
agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan Allah
Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang
membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barangsiapa
yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang beribadah
kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah
mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya
dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang
mengesakan Allah).
Sesungguhnya
ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar pokok, yaitu : hubb (cinta), khauf
(takut), raja’ (harapan). Rasa cinta harus disertai dengan rasa rendah diri,
sedangkan khauf harus dibarengi dengan raja’. Dalam setiap ibadah harus
terkumpul unsur-unsur ini. Allah berfirman tentang sifat hamba-hamba-Nya yang
mukmin:
يُحِبُّهُمْ
وَيُحِبُّونَهُ
“Dia
mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” [Al-Maa-idah: 54]
وَالَّذِينَ
آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ
“Adapun
orang-orang yang beriman sangat besar cinta-nya kepada Allah.” [Al-Baqarah:
165]
إِنَّهُمْ
كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا
لَنَا خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya
mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan
dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah
orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” [Al-Anbiya’: 90]
Sebagian
Salaf berkata [2], “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja,
maka ia adalah zindiq [3], siapa yang beribadah kepada-Nya dengan raja’ saja,
maka ia adalah murji’[4]. Dan siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan
khauf, maka ia adalah haruriy [5]. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan
hubb, khauf, dan raja’, maka ia adalah mukmin muwahhid.”
Ibadah
adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang
disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Apa yang tidak
disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak) sebagaimana sabda
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
مَنْ
عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa
yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”
Agar
dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa
dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat:
1) Ikhlas
karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.
2) Ittiba’,
sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Syarat
yang pertama merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallaah, karena Ia
mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan jauh dari syirik
kepada-Nya. Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad
Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya taat kepada Rasul, mengikuti
syari’atnya dan meninggal-kan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
بَلَىٰ
مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا
خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“(Tidak
demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan
ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa
takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” [Al-Baqarah: 112]. Aslama
wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah. Wahua muhsin
(berbuat kebajikan) artinya mengikuti Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Syaikhul
Islam mengatakan, “Inti agama ada dua pilar yaitu kita tidak beribadah kecuali
hanya kepada Allah, dan kita tidak beribadah kecuali dengan apa yang Dia syari’atkan,
tidak dengan bid’ah.” Sebagaimana Allah berfirman:
فَمَن
كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ
رَبِّهِ أَحَدًا
“Maka
barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaknya ia mengerjakan
amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada
Rabb-nya.” [Al-Kahfi: 110]
Hal
yang demikian itu merupakan manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat
Laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah.Pada yang pertama, kita tidak
beribadah kecuali kepada-Nya. Pada yang kedua, bahwasanya Muhammad Shallallahu
'alaihi wa sallam adalah utusan-Nya yang menyampaikan ajaran-Nya. Maka kita wajib
membenarkan dan mempercayai beritanya serta mentaati perintahnya. Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bagaimana cara kita beribadah
kepada Allah, dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kita dari
hal-hal baru atau bid’ah. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan bahwa
semua bid’ah itu sesat.
Sesungguhnya
Allah memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya semata. Maka,
beribadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada-Nya adalah
kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَاعْبُدِ
اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ
“Maka
sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” [Az-Zumar: 2]
Sesungguhnya
Allah mempunyai hak dan wewenang Tasyri’ (memerintah dan melarang). Hak Tasyri’
adalah hak Allah semata. Maka, barangsiapa beribadah kepada-Nya bukan dengan
cara yang diperintahkan-Nya, maka ia telah melibatkan dirinya di dalam Tasyri’.
Sesungguhnya
Allah telah menyempurnakan agama bagi kita. Maka, orang yang membuat tata cara
ibadah sendiri dari dirinya, berarti ia telah menambah ajaran agama dan menuduh
bahwa agama ini tidak sempurna (mempunyai kekurangan).
Dan
sekiranya boleh bagi setiap orang untuk beribadah dengan tata cara dan
kehendaknya sendiri, maka setiap orang menjadi memiliki caranya tersendiri
dalam ibadah. Jika demikian halnya, maka yang terjadi di dalam kehidupan
manusia adalah kekacauan yang tiada taranya karena perpecahan dan pertikaian
akan meliputi kehidupan mereka disebabkan perbedaan kehendak dan perasaan,
padahal agama Islam mengajarkan kebersamaan dan kesatuan menurut syari’at yang
diajarkan Allah dan Rasul-Nya.
Ibadah
di dalam syari’at Islam merupakan tujuan akhir yang dicintai dan diridhai-Nya.
Karenanyalah Allah menciptakan manusia, mengutus para Rasul dan menurunkan
Kitab-Kitab suci-Nya. Orang yang melaksanakannya dipuji dan yang enggan
melaksanakannya dicela. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَقَالَ
رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي
سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan
Rabb-mu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk
Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” [Al-Mu’min: 60]
Ibadah
di dalam Islam tidak disyari’atkan untuk mempersempit atau mempersulit manusia,
dan tidak pula untuk menjatuhkan mereka di dalam kesulitan. Akan tetapi ibadah
itu disyari’atkan untuk berbagai hikmah yang agung, kemashlahatan besar yang
tidak dapat dihitung jumlahnya. Pelaksanaan ibadah dalam Islam semua adalah
mudah. Diantara keutamaan ibadah bahwasanya ibadah mensucikan jiwa dan
membersihkannya, dan mengangkatnya ke derajat tertinggi menuju kesempurnaan
manusiawi. Termasuk keutamaan ibadah juga bahwasanya manusia sangat membutuhkan
ibadah melebihi segala-galanya, bahkan sangat darurat membutuhkannya. Karena
manusia secara tabi’at adalah lemah, fakir (butuh) kepada Allah. Sebagaimana
halnya jasad membutuhkan makanan dan minuman, demikian pula hati dan ruh
memerlukan ibadah dan menghadap kepada Allah. Bahkan kebutuhan ruh manusia
kepada ibadah itu lebih besar daripada kebutuhan jasadnya kepada makanan dan
minuman, karena sesungguhnya esensi dan subtansi hamba itu adalah hati dan
ruhnya, keduanya tidak akan baik kecuali dengan menghadap (bertawajjuh) kepada
Allah dengan beribadah. Maka jiwa tidak akan pernah merasakan kedamaian dan
ketenteraman kecuali dengan dzikir dan beribadah kepada Allah. Sekalipun
seseorang merasakan kelezatan atau kebahagiaan selain dari Allah, maka
kelezatan dan kebahagiaan tersebut adalah semu, tidak akan lama, bahkan apa
yang ia rasakan itu sama sekali tidak ada kelezatan dan kebahagiaannya.
Adapun
bahagia karena Allah dan perasaan takut kepada-Nya, maka itulah kebahagiaan
yang tidak akan terhenti dan tidak hilang, dan itulah kesempurnaan dan
keindahan serta kebahagiaan yang hakiki. Maka, barangsiapa yang menghendaki
kebahagiaan abadi hendaklah ia menekuni ibadah kepada Allah semata. Maka dari
itu, hanya orang-orang ahli ibadah sejatilah yang merupakan manusia paling
bahagia dan paling lapang dadanya. Tidak ada yang dapat menenteramkan dan
mendamaikan serta menjadikan seseorang merasakan kenikmatan hakiki yang ia
lakukan kecuali ibadah kepada Allah semata. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata, “Tidak ada kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan dan kebaikan hati
melainkan bila ia meyakini Allah sebagai Rabb, Pencipta Yang Maha Esa dan ia
beribadah hanya kepada Allah saja, sebagai puncak tujuannya dan yang paling dicintainya
daripada yang lain.
Termasuk
keutamaan ibadah bahwasanya ibadah dapat meringankan seseorang untuk melakukan
berbagai kebajikan dan meninggalkan kemunkaran. Ibadah dapat menghibur
seseorang ketika dilanda musibah dan meringankan beban penderitaan saat susah
dan mengalami rasa sakit, semua itu ia terima dengan lapang dada dan jiwa yang
tenang.
Termasuk
keutamaannya juga, bahwasanya seorang hamba dengan ibadahnya kepada Rabb-nya
dapat membebaskan dirinya dari belenggu penghambaan kepada makhluk,
ketergantungan, harap dan rasa cemas kepada mereka. Maka dari itu, ia merasa
percaya diri dan berjiwa besar karena ia berharap dan takut hanya kepada Allah
saja. Keutamaan ibadah yang paling besar bahwasanya ibadah merupakan sebab
utama untuk meraih keridhaan Allah l, masuk Surga dan selamat dari siksa
Neraka. Agama Islam mewajibkan umatnya untuk melaksanakan sholat 5 waktu dan
pada waktu-waktu tertentu, yakni sebagi berikut :
-
Fajr : Dimulai kira-kira empat puluh
lima menit sebelum matahari terbitdan merentang hingga terbitnya matahari.
-
Zuhur : Dimulai setelah matahari
melewati titik tengah di angkasa dan baru memulai turun searah busur
-
Ashar : Dimulai ketika matahari telah
melintas membagi dua busur yangdibuat oleh matahari, titik tengah antara bulan
dan garis horison; atauketika bayangan tubuh sama dengan panjang dua tubuh.
-
Maghrib: Dimulai persis setelah matahari
tenggelam di bawah horison dantidak ada sinar yang memantul dari awan (yakni,
tidak ada lagi awankemerah-merahan).
-
Isya : Dimulai ketika malam sudah turun
sepenuhnya, kira-kira satu jamdua puluh menit setelah waktu maghrib, atau
matahari tenggelam.
[32]Peribadahan
agama Buddha biasanya disebut dengan “Puja Bakti”. Berasal dari dua kata, yaitu
“Puja” yang artinya hormat dan “bakti” yang lebih diartikan sebagai
melaksanakan ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Dalam melakukan
Puja Bakti umat Buddha melaksanakan tradisi sejak zaman Sang Buddha masih hidup,
yaitu umat datang, masuk ke ruang penghormatan dengan tenang, melakukan
namakara atau bersujud yang bertujuan untuk menghormati lambang Sang Buddha,
jadi bukan menyembah patung atau berhala. Kebiasaan sujud ini dilakukan karena
Sang Buddha berasal dari India. Sujud, dilakukan dengan menempelkan dahi ke
lantai sebagai tanda menghormati mereka yang layak dihormati dan menunjukkan
upaya untuk mengurangi keakuan diri. Setelah memasuki ruangan dan bersujud,
umat Buddha dapat duduk bersila di tempat yang telah disediakan. Umat kemudian
secara sendiri atau bersama-sama membaca Paritta yaitu mengulang khotbah Sang
Buddha. Diharapkan dengan pengulangan khotbah Sang Buddha, uamt mempunya
kesempatan merenungkan isi uraian Dhamma Sang Buddha serta berusaha melaksanakannya
dalam kehidupan. Jadi makna sesungguhnya dari Puja Bakti yaitu menghormati dan
melaksanakan ajaran Sang Buddha.
[33]Dalam
agama Hindu terdapat beberapa ritual, seperti :
-
Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa
(Bhakti Yoga)
Penyerahan diri kepada Tuhan, selalu ingat/sadar kepada
Tuhan, tekun sepenuhnya dengan keyakinan dan cinta bhakti (cinta bhakti
misalnya dengan hubungan Tuhan sebagai Ayah Alam Semesta), dan menyadari hanya
Alam Rohani Tuhan Yang Abadi/kekal dan sebagai tujuan tertinggi (Bhagavad-gita
2.49; Bhagavad-gita 8.8; Bhagavad-gita 8.22; Bhagavad-gita 9.22; Bhagavad-gita
10.10; Bhagavad-gita 9.34).
-
Pengorbanan, Yadnya (Karma Yoga)
Pengorbanan
tidak semata-mata kedermawanan dan kewajiban tanpa pamrih, tetapi juga pelayanan
sosial, melaksanakan pekerjaan sendiri (yang baik) dengan sebaik-baiknya,
pertapaan (Upawasa/puasa), mengorbankan sifat-sifat buruk kita (mengorbankan
sifat-sifat hewani), pengendalian diri dengan tidak mendengarkan, tidak
memikirkan, melihat, tidak berkata hal-hal buruk, menjaga lingkungan dan alam,
tidak menyakiti mahluk lain juga merupakan korban suci (Yadnya) kepada Tuhan.
-
Pengetahuan, Kebijaksanaan (Jnana Yoga)
Akal budi yang berkemampuan
membeda-bedakan (Wiweka), akal budi harus dipergunakan untuk membedakan yang
terbatas dengan yang tak terbatas, yang asli dan yang palsu, yang sementara
dengan yang kekal.
-
Meditasi (Raja Yoga)
Meditasi pada dasarnya mengkondisikan pikiran
menjadi rileks sehingga mencapai atau mendekati frekuensi alam semesta tetapi
harus dalam keadaan “jaga” yaitu duduk dengan badan tegak. Dari penelitian
jumlah energi yang diperlukan saat duduk meditasi lebih kecil daripada dalam
keadaan berbaring atau tidur. Pada praktek Meditasi Transendental saat meditasi
pada saat tertentu dicapai nafas yang halus bahkan hampir tanpa nafas yang
berarti saat itu kita mengakses energi kosmis (alam semesta/Unity Field)
sehingga tubuh dan mental kita mendapat energi positif, memperoleh kesehatan
fisik dan mental, mengikis stres saraf (dosa), meningkatkan kreatifitas dan
kecerdasan/akal budi, menumbuhkan kesabaran,
dan lain-lain. Praktek meditasi yang lain memusatkan kosentrasi kepada
sang diri sejati (cahaya Atma) atau cahaya Tuhan Brahman.
Keempat Jalan mencapai kepada Yang Maha
Kuasa (Yoga) tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya dan tidak bisa
dipisahkan, misalnya seorang praktisi Meditasi
kepada Cahaya Tuhan pada saat yang sama juga sedang melakukan praktek
Bhakti kepada Tuhan. Atau ketenangan
fisik dan mental karena meditasi membantu pelaksanaan yoga-yoga yang lain. Seorang
yang berBhakti kepada Tuhan mesti juga menolong dan hormat dengan sesama
manusia dan mahluk hidup lainnya, serta
peduli dengan lingkungan tanpa pamrih (Karma).
Dari
pengalaman kita sendiri sebagai umat percaya, menggambarkan doa adalah sebagai
sarana untuk berkomunikasi dengan Allah. Menurut rasul Paulus, Roh Kuduslah
yang memberikan kita kemampuan untuk berdoa, ketika kita tidak mampu menemukan
kata-kata, dan Roh Kuduslah yang “berdoa” untuk kita kepada Allah dengan
keluhan yang tak terucapkan (Roma 8:26). Meditasi atau yoga juga adalah bentuk
dari berdoa. Doa juga membutuhkan kedisiplinan. Orang Hindu yang taat berdoa
tiga kali sehari, atau paling sedikit pada waktu fajar dan malam hari.
Orang-orang Islam mengingat Allah melalui doa lima kali sehari. Kita sebagai
pengikut Kristus walaupun kita hanya beribadah pada hari Minggu, namun
sebenarnya dalam artian yang sesungguhnya bukan demikian. Kita beribadah kepada
Tuhan setiap hari melalui doa-doa dan pujian kita. Karena kita meyakini bahwa
Tuhan Yesus tidak hanya terdapat dalam gedung gereja saja, namun juga ada dalam
hati kita. Karena tubuh kita juga adalah bait suci Allah.
Gereja
bukan sekedar organisasi saja, namun Gereja merupakan kumpulan anggota gereja
yang menyadari bahwa mereka memiliki sesuatu yang lazim diantara mereka yakni
hidup bersekutu mempelajari firman Tuhan. Di dalam Gereja kalau ada salah satu
anggotanya mulai kendur semangatnya, kita akan usahakan supaya dia kembali.
“Demikianlah
kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari
orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Efesus 2:19).
Kesatuan
dan kebersamaan orang-orang percaya di dalam Kristus disebut persekutuan. Kata
yang dipakai untuk persekutuan dalam bahasa Yunani adalah Koinonia yang berasal
dari kata dasar “koinos” yang berarti “lazim atau umum”. Adapun kata lain yang
dihubungkan dengan koinonia, yakni “koinonos” yang berarti “sekutu atau kawan
sekerja”. Kata lainnya yang seringkali dikaitkan dengan koinonia adalah “allelous”
berarti “satu terhadap yang lain”. Kata ini dipakai dengan pengertian hubungan
yang timbal balik. Yesus berkata “Aku memberikan perintah baru kepada kamu yaitu,
supaya kamu saling mengasihi sama seperti aku telah mengasihi kamu, demikian
semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu
saling mengasihi” (Yohanes 13:34-35). Hal-hal yang harus kita miliki untuk
menjalin persekutuan yang baik adalah :
· Harus
saling mengasihi
Kebenaran
ini ditemukan di dalam perintah baru yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus dalam
Yohanes 13. Hal saling mengasihi tidak hanya terdapat dari injil dan
surat-surat Yohanes (13:34-35; 15:12, 17, 1 Yohanes 3:11,23; 4,7 11-12 dan Yoh
5) melalinkan dalm surat-surat Paulus juga Janganlah berhutang apapun kepada
siapa juga, kecuali berhutang kasih terhadap satu sama lain, sebab orang yang
mengasihi sesama manusia sudah memenuhi semua hukum Musa (Roma 13:8 ; 1 Tes
3:12 dan 4:9). Mengasihi bukan hanya sekadar simpati saja ataupun dalam
perkataan saja. Kasih itu dinyatakan dalam perkataan dan perbuatan. Semua ini
dapat dilakukan dengan cara praktis seperti pemberian uang ataupun makanan
kepada saudara-saudara seiman yang membutuhkan. Saling mengasihi merupakan
suatu tanda bahwa orang-orang Kristen adalah benar-benar pengikut Kristus. Kita
tidak mungkin bersekutu tanpa adanya kasih.
· Harus
saling melayani
Tuhan
Yesus adalah teladan kita dalam pelayanan. Dia memperlihatkan keteladanan
seorang hamba dengan menanggalkan jubahnya, dan berpakaian seperti seorang
hamba membasuh kaki murid-murid-Nya. “Aku telah meberikan suatu teladan kepada
kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah kuperbuat kepadamu” (Yoh
13:15). Pelayanan adalah akibat dari kasih, sehingga ada orang mengatakan kamu
bisa melayani tanpa kasih, tetapi engkau tidak mengasihi tanpa melayani Paulus
sendiri pernah mengatakan “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk
merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan
untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh
kasih” (lihat Galatia 5 :13).
· Harus
saling membantu menanggung beban
(Galatia
6:2) “Betolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum
Kristus.” Setiap orang percaya yang hidup dalam persekutuan mestinya memiliki
karakter-karakter dasar Kristiani yakni rendah hati, lemah lembut, sabar dan
mengasihi. Dengan adanya karakter dasar itulah memungkinkan kita untuk turut meraskan
kesulitan orang lioan, bukan hanya itu kita juga akan membantu mereka.
· Harus
saling mengampuni
Mengampuni
dan melupakan, dua hal yang berbeda, orang yang melupakan saja belum tentu
mengampuni, tetapi yang paling penting adalah walaupun kita tidak melupakannya
tetapi ada pengampunan. Tuntutannya dalam satu tubuh Kristus yang hidup dalam
persekutuan adalah saling mengampuni. Bagaimana kita bisa bersekutu dengan
tenang, kalau di depan kita masih ada musuh. Demikian juga kita yang merupakan
anggota tubuh Kristus, semakin kita saling menyakiti maka semakin sakit, itu
sebabnya Paulus mengingatkan kita, Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan,
pertikaian, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala
kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih
mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah
mengampuni kamu (lihat Efesus 4:31-32, Kolose 3:12-13 dan kembali ke Efesus
4:1-3)
· Harus
saling mengaku dosa dan saling mendoakan
Karena
itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu
sembuh. Dan orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar
kuasanya” (Yakobus 5:16).
· Harus
saling menasihati
Menasihati
sesama sangat perlu unutk memperbaiki kesalahan mereka agar tidak melakukannya
lagi. Demikain juga kalau ada salah satu anggota tubuh kita bersalah (sakit),
perlu diobati = dinasehati.
· Harus
saling menghiburkan
Tesalonika
4: 18 Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain Orang-orang di Tesalonika
pada waktu itu kebingungan tentang kedatangan Kristus sehubungan dengan
kematian beberapa orang dari antara mereka. Tetapi Paulus menjelaskan bahwa
kedatangan Yesus tidak hanya menyangkut orang-orang yang masih hidup melainkan
orang-orang mati juga. Marilah kita saling menghibur, karena dengan saling
menghibur kita bisa menunjukkan sikap kasih kita dan terutama persekutuan kita
terhadap sesama.
Persekutuan
adalah suatu hal yang amat asasi bagi iman Kristen. Persekutuan orang-orang
percaya berawal pada pemahaman kita sebagai Allah Tritunggal. Kita melihat
gereja sebagai persekutuan tubuh Kristus. Persekutuan kita digambarkan oleh
Yesus seperti di dalam 1 Korintus 12:12-30 dan 1 Petrus 2. Ayat-ayat di atas
membawa kita melampaui diri kita kepada persekutuan yang lebih luas lagi yang
merupakan tujuan penciptaan Allah. Pada akhirnya bentuk-bentuk persekutuan
seperti di atas harus kita terapkan dalam kehidupan kita hari lepas hari. Namun
kita juga harus bergaul atau mewujudkan semua bentuk persekutuan di atas kepada
orang-orang yang tidak seiman dengan kita. Serta tetap harus mengutamakan
kawan-kawan kita seiman.
Dalam
kehidupan keagamaan di Indonesia yang pluralistik, kita sebagai umat percaya
dituntut untuk tetap mengikrarkan iman kita kepada Tuhan dengan penuh ketaatan.
Bagaimana pun tantangan dan kondisi yang dihadapi kita harus tetap berpegang
teguh pada Kristus satu-satunya Tuhan dan Juruselamat. Kita mengenal adanya
trinitas, yaitu satu komunitas berbeda yang berada dalam hubungan. Itulah yang
menjadikan dasar kepada kita untuk memaklumi adanya perbedaan antar umat
beragama. Namun seperti trinitas di atas, dalam segala keperbedaan itu kita
tetap saling terhubung. Terhubung oleh karena kita tetap ingin menjalin hubungan
baik antar agama. Sikap yang harus kita ambil untuk menjalani kehidupan
keagamaan yang pluralistik zaman ini adalah sikap yang penuh dengan toleransi.
Karena dengan adanya sikap seperti itu, niscaya kehidupan yang aman dan
kerukunan, damai sejahtera serta penuh sukacita akan tercapai. Sekaligus
mewujudkan cita-cita Tuhan Yesus. Toleransi antar umat beragama dapat juga
diwujudkan dengan cara kita mau untuk lebih mengenal agama-agama lain yang ada
di sekitar kita. Bukan malah kita bersikap eksklusif tanpa mempedulikan
lingkungan sekitar. Dengan mengenal agama-agama lain kita dapat menambah iman
kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Adanya keragaman agama bukan suatu keburukan
yang harus dihilangkan, tetapi suatu kekayaan yang harus diterima dan dinikmati
oleh semua.
Semoga bermanfaat !! Ada yang perlu ditanya lebih lanjut silahkan add commentnya ya
Gbu
No comments:
Post a Comment